TROBOS.CO | Saat bersantai di sebuah resort di kaki gunung, rasa sakit, panas, dan gatal tiba-tiba menyengat lipatan belakang lutut saya. Rupanya, ada semut rangrang yang sedang merangkak di situ. Terjepit oleh gerakan lutut, ia membela diri dengan caranya: menggigit.
Refleks, saya mengibaskan sarung hingga si pengganggu itu terlempar ke lantai. Melihatnya merayap dengan jalannya yang sudah tak normal, saya justru tersentak oleh sebuah refleksi. Di balik kejadian kecil ini, ada pelajaran besar yang ditawarkan oleh makhluk kecil bernama semut rangrang.
Semut rangrang dikenal agresif. Namun, agresivitasnya punya tujuan jelas: ia hanya menyerang ketika dirinya atau koloninya terancam. Di luar itu, mereka bekerja dalam ketenangan dan fokus.
Perilaku ini mengingatkan saya pada kecenderungan manusia—termasuk diri saya sendiri. Sesaat sebelum digigit, saya justru menggerutu pada pengelola resort karena jaringan internet yang lelet. Saya mudah tersulut emosi untuk hal-hal sepele, sementara semut rangrang mengajarkan: ketegasan bukan soal meledakkan emosi, melainkan keberpihakan pada hal yang benar-benar esensial.
Internet yang lambat adalah hal biasa. Namun, luka hati seseorang yang kita sakiti dengan kata-kata bisa menjadi beban moral yang panjang. Dari sini, saya belajar untuk memilih “perang” yang tepat.
Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah tentang kepedulian kolektif. Ketika satu semut rangrang merasa terancam, ia tidak diam. Ia memberi sinyal, dan segera seluruh koloni bergerak bersama. Tidak ada sikap “bukan urusanku”. Tidak ada penundaan dengan alasan sibuk mengurus diri sendiri.
Dalam masyarakat manusia, pola pikir ini justru sering terbalik. Ketidakadilan dianggap biasa. Kerusakan dianggap tanggung jawab pemerintah atau orang lain. Padahal, seperti koloni semut, sebuah masyarakat hanya akan kuat jika setiap anggotanya peka, peduli, dan berani bertindak untuk hal-hal signifikan yang mengganggu keselarasan bersama.
Kita sering menempatkan diri di puncak piramida kehidupan. Dengan akal, teknologi, dan peradaban, manusia mengklaim diri sebagai makhluk paling maju. Namun, justru dalam kemajuan itulah kita kerap kehilangan hal-hal mendasar: kesadaran sebagai bagian dari komunitas, ketegasan yang tepat sasaran, dan tanggung jawab kolektif.
Di titik inilah, semut rangrang—sang makhluk kecil yang sering kita anggap remeh dan usir—justru menjadi cermin yang jujur bagi “kecanggihan” kita. Mungkin, sudah saatnya kita menunduk sejenak, belajar dari bawah, dan merenungkan kembali arti menjadi makhluk yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.
Oleh: Teguh W. Utomo




