TROBOS.CO | Di zaman sekarang, bahagia sering disalahpahami sebagai hidup yang selalu penuh jadwal. Kalender padat, grup WhatsApp ramai, undangan datang silih berganti. Ironisnya, di tengah semua itu, banyak orang justru merasa lelah dan kehilangan arah.
Kita hidup di masa ketika sibuk dianggap sukses, sementara diam sering disalahartikan sebagai kalah. Padahal, tidak semua yang bergerak berarti maju. Ada juga yang bergerak tanpa arah, berputar-putar, lalu lelah sendiri.
Media sosial ikut memperparah kebingungan ini. Bahagia dipajang seperti etalase toko: senyum lebar, caption panjang, emoji berderet. Yang terlihat hanya bagian depan. Bagian dalamnya, siapa yang benar-benar tahu?
Tak jarang, di balik foto ceria tersimpan hati yang tegang. Seperti rumah dengan lampu menyala terang, tetapi penghuninya sulit tidur—gelisah.
Tanpa sadar, kita terbiasa mengejar bahagia dengan suara keras. Padahal, bahagia yang paling bertahan lama justru sering datang perlahan, bahkan tanpa suara.
Sejak awal, Islam tidak mendefinisikan bahagia sebagai kegembiraan yang meledak-ledak. Islam berbicara tentang ketenangan—sesuatu yang hari ini justru semakin langka. Al-Qur’an menyebutnya ṭuma’ninah: keadaan ketika hati tidak ikut panik meski situasi berubah.
Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Ayat ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat dalam. Ia seperti tombol mute di tengah kebisingan hidup. Tidak perlu pembuktian rumit—cukup dicoba dengan berdzikir.
Tenang bukan berarti hidup tanpa target. Tenang adalah kemampuan untuk tidak terburu-buru menghakimi diri sendiri hanya karena hidup orang lain terlihat lebih cepat, lebih kaya, atau lebih diakui.
Banyak orang kelelahan karena membandingkan. Mengukur hidup dengan standar orang lain. Seperti ikut lomba yang sebenarnya tidak pernah didaftarkan sebagai peserta, lalu heran mengapa tidak mendapat piala.
Orang yang tenang tidak sibuk menjelaskan dirinya. Ia tidak merasa perlu membela pilihan hidupnya di setiap percakapan. Karena yang paling perlu diyakinkan bukan orang lain, melainkan hatinya sendiri.
Tenang juga bukan sikap pasrah tanpa usaha. Justru dari ketenangan lahir kerja yang lebih fokus, keputusan yang lebih jujur, dan relasi yang lebih sehat. Orang yang tenang jarang impulsif. Ia melangkah dengan sadar, bukan meloncat tanpa arah.
Di dunia yang semakin bising, mungkin bahagia hari ini sesederhana ini: tidak iri melihat keberhasilan orang lain, tidak panik melihat keterlambatan diri sendiri, dan tidak lupa pulang—ke rumah, ke hati, dan ke Tuhan.
Karena sesungguhnya, bahagia bukan tentang seberapa ramai hidup kita dibicarakan, melainkan seberapa tenang kita menjalaninya ketika tidak ada yang melihat. “Alaa bidzikrillahi tathma’innal qulub.” Selamat terus berdzikir, dan selamat menemukan bahagia.
Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur









