TROBOS.CO | Dalam kajian konstruksi sipil, bencana alam seperti banjir dan petir pada dasarnya bekerja dalam kerangka hukum alam (sunnatullah) yang bersifat tetap dan konsisten.
Namun, dalam praktik sosial—terutama di era digital—fenomena alam tersebut kerap ditafsirkan melalui lensa natural-mistis, yakni kecenderungan memberi makna gaib pada peristiwa yang sejatinya dapat dijelaskan secara ilmiah.
Ilustrasi yang sering muncul adalah peristiwa petir di wilayah rawan. Masjid berlambang bulan-bintang kerap tidak dilengkapi penangkal petir, sementara gereja dengan tiang salib justru dilengkapi sistem grounding yang baik. Ketika petir menyambar dan gereja selamat sementara masjid rusak, tafsir awam berkembang ke arah mistik, seolah petir “memilih” tempat tertentu.
Padahal, secara natural-logis, petir tidak mengenal simbol agama. Ia tunduk sepenuhnya pada hukum fisika, mencari jalur dengan hambatan listrik terkecil menuju tanah.
Penangkal petir bukanlah simbol teologis, melainkan perangkat teknis yang mematuhi hukum konduktivitas listrik. Dalam perspektif keimanan yang matang, memasangnya pada masjid justru merupakan bentuk tanggung jawab religius dan ketaatan pada hukum sebab-akibat yang Tuhan ciptakan.
Logika hukum alam yang sama dapat ditarik ke fenomena banjir melalui prinsip Archimedes, yang menjelaskan bahwa suatu benda akan mengapung jika gaya apung fluida lebih besar atau seimbang dengan berat benda tersebut.
Inilah sebabnya jarum kecil dari besi tenggelam, sementara kapal raksasa berton-ton dapat mengapung. Bukan karena kapal lebih ringan, melainkan karena desain dan volumenya mampu memindahkan massa air dalam jumlah besar sehingga gaya apung mencukupi.
Dalam konteks banjir, bangunan ibadah yang tampak “lolos” dari air sejatinya tunduk pada prinsip serupa. Pondasi dalam, struktur masif, dan elevasi lantai tinggi membuat bangunan bertahan, bukan karena kebal, melainkan karena dirancang selaras dengan hukum alam.
Prinsip natural-logis ini pernah dijelaskan secara gamblang oleh Syahrial Muharam—penulis The Art of Leadership in Managing Construction Project: Mengelola Ketidakpastian, Mengejar Target-Target (2024)—berdasarkan pengalamannya membantu Bappenas dalam Program Rekonstruksi Aceh pasca tsunami 2004.
Syahrial menjelaskan bagaimana sebuah masjid di kawasan Lhoknga tetap berdiri sementara hampir seluruh bangunan di sekitarnya rata dengan tanah. Secara teknik sipil, penyebabnya rasional: tsunami dengan kecepatan lebih dari 80 km/jam dan tinggi gelombang sekitar 15 meter membuat air berenergi besar bekerja layaknya palu raksasa.
Rumah-rumah bertembok tertutup menjadi penghalang yang menerima tekanan penuh lalu hancur, sedangkan masjid dengan bukaan jendela lebar memungkinkan air masuk, mengalir, dan keluar kembali. Bangunan tidak “melawan” air, melainkan dilewati olehnya.
Namun di era digital, narasi ilmiah semacam ini sering kalah oleh konten mistik dan sensasional. Media sosial lebih sibuk membingkai banjir sebagai hukuman, sementara penyebab ekologis seperti penebangan hutan dan hilangnya daerah resapan kerap terpinggirkan.
Di titik inilah natural-mistis perlu ditempatkan secara proporsional sebagai refleksi etis, bukan pengalihan tanggung jawab. Iman yang dewasa di era digital justru meneguhkan ketaatan pada sunnatullah: memasang penangkal petir, membangun secara teknis benar, menjaga hutan, dan merawat alam sebagai bagian integral dari ketaatan spiritual.
Didik P Wicaksono. Pemerhati sosial digital dan budaya kontemporer









