5 Tahap Mengasah Intuisi: Dari Insting hingga Jadi Karya Inovasi Nyata

TROBOS.CO | Salah satu karya rekayasa sipil Indonesia yang diakui dunia adalah Pondasi Cakar Ayam (Chicken Foot Foundation). Penemunya, Prof. Dr. Ir. Sedijatmo, menghadapi tantangan berat: membangun Bandara Kemayoran Jakarta di atas tanah lunak dan berawa. Secara konvensional, ini memakan biaya tinggi dan berisiko gagal.

Solusinya datang bukan dari buku teks, melainkan dari tafakur alam. Saat merenung, sang profesor memperhatikan pohon kelapa yang tetap teguh diterpa angin kencang di tanah pasir pantai. Ia menyadari, kekuatannya bukan pada akar yang dalam, tetapi pada sistem akar serabut yang menyebar dan saling mengikat, membentuk satu kesatuan kaku dengan tanah.

banner 1142x1600

Fenomena alam ini lalu diwujudkan menjadi pondasi pelat beton yang terhubung kaku dengan pipa-pipa beton di bawahnya. Sistem ini, yang meniru “cakar ayam” mencengkeram tanah, terbukti lebih murah, mudah, dan kuat untuk tanah lunak. Inilah contoh nyata bagaimana kontemplasi melahirkan inovasi besar.

Lima Tahap Mengasah Potensi Diri Menuju Karya Inovasi

Prof. Sedijatmo mewariskan pesan penting: karya besar lahir dari mengasah potensi diri dan mengamati proses alam. Proses ini selaras dengan isyarat dalam QS Fushilat: 53. Berikut adalah lima tahapannya:

1. Insting
Tahap awal berupa kepekaan naluri berdasarkan pengalaman. Ini adalah reaksi dasar untuk bertahan hidup dan mencari solusi atas masalah yang ada. Pada kasus Pondasi Cakar Ayam, instingnya adalah “harus ada cara lain yang lebih aman dan murah untuk menopang beban di tanah lunak.”

2. Ilham
Insting yang terus diasah melalui pengamatan dan perenungan (tafakur) mulai memercikkan kilasan gagasan awal. Ini adalah “percikan api” pertama. Ilham Prof. Sedijatmo muncul saat memandang pohon kelapa di tepi pantai.

3. Intuisi
Di sini, kemampuan memahami hubungan sebab-akibat muncul tanpa proses berpikir panjang. Intuisi menjembatani rasa dan akal, sehingga mulai terlihat pola yang melampaui teori baku. Intuisinya: “Jika akar kelapa bekerja sebagai sistem kaku yang menyebar, mengapa pondasi tidak bisa dirancang seperti itu?”

4. Inspirasi
Tahap di mana intuisi menemukan bentuk yang lebih jelas dan terstruktur. Gagasan abstrak mulai dapat dirumuskan menjadi konsep teknis yang logis. Inspirasi Prof. Sedijatmo adalah visualisasi pelat beton dengan pipa-pipa penyangga yang meniru sistem akar.

5. Inovasi
Inilah puncaknya: gagasan diwujudkan menjadi karya nyata yang bermanfaat. Pondasi Cakar Ayam tidak hanya jadi konsep, tetapi dipatenkan dan digunakan untuk bandara, gedung pencakar langit, jembatan, dan menara listrik di seluruh dunia.

Tafakur: Memadukan Akal dan Rasa untuk Membaca Alam

Proses dari insting hingga inovasi ini digerakkan oleh tafakur—perenungan mendalam yang memadukan akal (fikr) dan rasa (dzikir) untuk mencari makna di balik ciptaan Allah.

Dengan membiasakan tafakur, kita mengasah “otot” intuisi. Sebagaimana pesan penemu Pondasi Cakar Ayam, inovasi sejati bukan sekadar menghafal teori, tetapi membaca “buku alam” yang terbuka, lalu memiliki keberanian untuk menjahit ilham itu menjadi karya yang membumi.

Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *