Solidaritas Tak Pensiun: Para Purnabakti Pemda Lumajang Peduli Korban Erupsi Semeru

TROBOS.CO | LUMAJANG – Erupsi Gunung Semeru yang kembali mengguncang wilayah Lumajang akhir-akhir ini seperti mengulang luka lama yang belum sepenuhnya pulih.

Namun, di balik kepulan abu dan kecemasan yang menyelimuti warga, kembali tampak cahaya kecil yang meneguhkan: empati dan semangat gotong royong masyarakat Lumajang yang tidak pernah padam.

banner 1280x716

Meski letusan Gunung Semeru bukanlah kejadian baru, kobaran solidaritas masyarakat tetap menyala, seperti bara yang tak lekang dimakan waktu.

Mereka yang masih memiliki tenaga dan kesempatan langsung terjun ke lapangan, bahu membahu membantu penyintas menyelamatkan harta benda yang masih bisa ditemukan di sela-sela puing dan material vulkanik.

Di tengah aroma belerang dan debu yang terus beterbangan, tampak begitu banyak tangan yang terulur—tanpa diminta, tanpa syarat. Sementara itu, bagi warga yang tidak memungkinkan hadir langsung di lokasi, jalan kebaikan tetap terbuka lebar.

Para pengurus dan perwakilan Paguyuban Pengajian Wal Ashri berfoto usai menyerahkan bantuan. Meski telah purnabakti, kepedulian mereka terhadap sesama tetap mengakar kuat. (Foto: TROBOS.CO)

Salah satunya adalah komunitas pensiunan mantan pegawai negeri sipil Pemda Lumajang yang tergabung dalam jama’ah Paguyuban Pengajian Wal Ashri. Meski fisik tak sekuat dulu, kepedulian mereka tetap tajam dan hidup.

Hari ini, Kamis (27/11/2025), para pengurus bersama penasehat dan perwakilan anggota Paguyuban Pengajian Wal Ashri menyerahkan hasil penggalangan donasi kepada PMI Lumajang.

Keputusan untuk menyalurkan bantuan melalui PMI bukan tanpa alasan. Sejak awal erupsi terjadi, PMI telah membuka Dapur Umum di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, yang setiap harinya melayani para penyintas di berbagai titik pengungsian, sekaligus mendukung para aparat dan relawan yang bekerja tak kenal waktu dalam penanganan dampak erupsi.

Bantuan yang diserahkan berupa uang tunai senilai sepuluh juta lima ratus ribu rupiah, diterima oleh Budi Santoso – Ketua PMI Lumajang bersama jajaran pengurus lainnya.

Meski jumlahnya mungkin tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan para korban, namun nilai moral dan solidaritas yang terkandung di dalamnya tak ternilai harganya.

Setiap rupiah adalah wujud kasih sayang, kepedulian, dan komitmen untuk terus saling menguatkan sebagai satu keluarga besar Lumajang.

Didik Supribadijo, Ketua Paguyuban Pengajian Wal Ashri, menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini telah menjadi tradisi kelompok mereka setiap kali masyarakat Lumajang mengalami musibah.

“Kami para pensiunan pegawai Pemda merasa terketuk untuk berbuat sesuai kemampuan, agar sedikit meringankan beban saudara-saudara kami yang kembali terdampak erupsi Semeru,” ujarnya dengan nada haru.

Pesan itu sederhana namun kuat: ketika bencana datang berulang, maka gotong royong harus hadir berlipat. Sebab hanya dengan kebersamaan, masyarakat Lumajang bisa terus berdiri tegak menghadapi segala ujian alam. (*)

Nugroho Dwi Atmoko

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *