TROBOS.CO | LUMAJANG – Menyikapi peningkatan status Gunung Semeru menjadi Darurat Bencana Alam, Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Lumajang memutuskan untuk menunda rencana resepsi Milad ke-113. Keputusan penundaan ini diumumkan secara internal oleh Ketua PDM Lumajang, dr. Halimi Maksum, M.MRS, sebagai bentuk empati dan solidaritas terhadap korban serta warga yang terdampak erupsi.
Keputusan untuk menunda acara yang rencananya digelar di Pendopo Kabupaten pada 23 November tersebut bukanlah keputusan yang mudah. Rabu sore (19/11), PDM dan panitia bahkan masih menggelar rapat final persiapan di Gedung Dakwah Muhammadiyah.
Dalam rapat itu, muncul usulan bijak untuk mempertimbangkan situasi darurat akibat erupsi Semeru. “Semakin malam, erupsi Semeru semakin membesar. Setelah Bupati menetapkan status darurat, kami segera menentukan sikap,” jelas seorang sumber yang hadir dalam rapat. Akhirnya, diputuskanlah penundaan hingga situasi dinyatakan normal.
Sebagai tindak lanjut, dr. Halimi telah mengirimkan surat permohonan maaf kepada calon penceramah, Prof. Dr. Hilman Latief, M.A., yang juga Bendahara PP Muhammadiyah. Seluruh pengurus juga diminta untuk segera berkoordinasi dengan protokoler Pemda, Pimpinan Cabang (PC), dan seluruh Ortom (Organisasi Otonom) Muhammadiyah untuk menyampaikan keputusan ini.
“Dalam suasana berkabung, tidak etis bagi kami untuk bersenang-senang merayakan milad,” ujar dr. Halimi, menegaskan alasan filosofis di balik penundaan.
Keputusan humanis Muhammadiyah ini berlatarkan kondisi bencana yang masih mencekam. Dua orang dilaporkan menjadi korban jiwa dengan kondisi tubuh melepuh akibat sengatan awan panas.
Upaya penyelamatan dan pencegahan korban susulan terus dilakukan. “Semua truk di aliran sungai segera dipindah ke tempat aman,” ujar Jamal Abdullah, salah seorang relawan di lokasi. Ia mengungkapkan kekhawatiran masih adanya korban lain yang belum ditemukan karena medan pencarian yang luas.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 150 warga dari tiga desa—Desa Supiturang, Oro-oro Ombo, dan Sumberurip—telah diungsikan ke lokasi yang lebih aman oleh pemerintah setempat.
Suharyo/TROBOS.CO









