Stop Jadi People Pleaser! 3 Langkah Islami untuk Teguh Prinsip & Hidup Lebih Tenang

TROBOS.CO | Pernahkah Anda merasa lelah karena selalu ingin menyenangkan orang lain? Fenomena “people pleaser” ini sering muncul dalam kehidupan sehari-hari: mengiyakan pinjaman uang dari teman meski keuangan sendiri terbatas, lembur berlebihan demi pujian atasan, atau ikut rencana kelompok padahal hati sebenarnya menolak.

Kita takut dicap egois atau “kurang baik”, padahal keputusan itu sudah sesuai prinsip dan batas diri sendiri. Ironisnya, kebiasaan ini justru menggerus energi dan merusak hubungan autentik.

banner 1280x716

Cerita Andi, seorang karyawan kantor biasa, menggambarkan hal ini dengan jelas. Setiap akhir pekan, Andi selalu diminta teman-temannya untuk bergabung piknik atau membantu urusan pribadi mereka.

“Kalau nggak ikut, dikira sombong,” katanya. Suatu hari, ia akhirnya bilang, “Maaf, akhir pekan ini saya butuh istirahat untuk keluarga.” Awalnya canggung, tapi teman-temannya justru memahami. Kini, pertemanan mereka lebih sehat—tidak ada paksaan, hanya saling menghargai batas.

Islam mengajarkan keseimbangan sempurna dalam hal ini. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qasas: 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak mengorbankan diri sendiri demi ridha manusia semata. Rasulullah SAW juga bersabda, “Sungguh, agamamu itu mudah, dan tidak ada yang membebani agama kecuali karena seseorang mempersulit dirinya sendiri” (HR. Bukhari). Menolak dengan bijak justru bentuk taqwa pada diri dan orang lain.

Mengapa sulit melepaskan pola ini? Karena kita sering mengutamakan opini orang lain daripada kesejahteraan diri.

Psikolog sepakat bahwa menetapkan batas adalah kunci kesehatan mental. Langkah awalnya sederhana: kenali prioritas utama Anda, seperti keluarga atau kesehatan. Lalu, latih mengatakan “tidak” dengan sopan, misalnya, “Terima kasih atas ajakannya, tapi kali ini saya belum bisa.” .

Lama-kelamaan, orang sekitar akan menghormati keteguhan Anda, dan hubungan pun menjadi lebih tulus.

Intinya, Anda bukan orang jahat jika tidak selalu mengiyakan segalanya. Teguh pada prinsip justru membuat hidup lebih damai dan bermakna.

Lepaskan beban people pleaser mulai hari ini—prioritaskan hati yang tenang, dan lihat bagaimana dunia merespons dengan lebih positif.

Fytrya A.S.
Menulis untuk menjaga ingatan dan memulihkan kewarasan.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *