TROBOS.CO | Salat merupakan gambaran hidup. Diawali takbir dengan posisi berdiri tegak. Ibarat orang muda, masih gagah. Warnai hidup dengan takbiratul ihram: Allahu Akbar. Membesarkan Allah.
Selagi tenaga masih prima, masih kuat, dan sehat, hendaklah besarkan Allah. Orang yang selalu membesarkan Allah tidak takut miskin, dan tidak takut gagal. Semua ada di tangan Allah.
Mohonlah kepada Allah yang terbaik di usia muda. Asal serius, doa tersebut dikabulkan Allah. Sesuai janji-Nya: “Mintalah kepada-Ku, akan Ku kabulkan permintaanmu.” Demikian firman Allah.
Gerakan berikutnya, ruku’. Usia 60 sampai 70 tahun ibarat usia ruku’ bagi seseorang. Dalam usia tersebut, sucikan dan agungkan Allah. Punggung yang mulai membungkuk, tenaga yang mulai berkurang, namun hati justru semakin dekat kepada-Nya.
Setelah ruku’, lalu sujud. Posisi sujud meletakkan dahi di tempat yang kita injak. Sementara lisan menyucikan dan meninggikan Allah. Di usia sujud, harus ada kesadaran penuh, yaitu mensucikan Allah dan meninggikan-Nya. Inilah puncak kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
Baru gerakan terakhir, salam. Ucapkan selamat tinggal kepada kehidupan. Salam tersebut terdiri dari tiga kata: salam, rahmah, dan barokah.
Pesan hidupnya: ciptakan salam (damai, rukun, saling mendoakan, dan menciptakan kebersamaan). Hindari caci maki, merendahkan, apalagi menghinakan.
Tebarlah rahmah (kasih sayang) sesama manusia. Tanpa merendahkan orang lain. Mereka punya kekurangan sekaligus kelebihan. Hormatilah penuh kasih sayang.
Dan ketiga, upayakan tercipta kehidupan yang saling memberi barokah (keberkahan), yaitu menambah kebaikan sesama.
Betapa hebatnya pesan salat yang kita lakukan. Maka tugas kita dalam beragama adalah ilmui agama secara luas dan mendalam. Hayati ajarannya, amalkan ilmunya, lakukan penuh kesungguhan. Istiqomah, tebar dakwah, dan bela kalau ada tangan kotor ingin merusak agama Allah.
Suharyo, pemerhati masalah sepele.








