TROBOS.CO | Di era yang serba instan, manusia bisa mendapatkan hampir semua yang diinginkan hanya dengan satu sentuhan jari. Makanan tersedia 24 jam. Hiburan tanpa batas. Belanja tanpa perlu keluar rumah. Informasi mengalir tanpa henti. Namun di tengah kemudahan itu, satu hal justru semakin langka: kemampuan menahan diri. Di sinilah Ramadhan menemukan relevansinya.
Puasa dan Krisis Peradaban
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…” (QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa diwajibkan bukan untuk melemahkan manusia, tetapi untuk menguatkannya. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa puasa melemahkan syahwat dan mempersempit jalan setan.
Jika kita tarik ke konteks hari ini, persoalan terbesar bukan kekurangan, tetapi kelebihan:
- Kelebihan konsumsi
- Kelebihan informasi
- Kelebihan stimulasi
- Kelebihan ambisi
Puasa adalah mekanisme pembatasan yang sadar.
Ketika Semua Bisa, Tidak Semua Perlu
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai bukan simbol kelemahan, tetapi perlindungan. Puasa mengajarkan satu prinsip sederhana yang revolusioner di zaman modern:
Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Tidak semua yang tersedia harus dikonsumsi. Tidak semua keinginan harus dipenuhi.
Inilah fondasi peradaban.
Puasa dan Disiplin Waktu
Allah menyebut puasa sebagai:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“Beberapa hari yang tertentu.”
Ramadhan mengajarkan keterbatasan waktu. Kita hidup dalam ilusi kelonggaran waktu, padahal hidup adalah “ayyāman ma‘dūdāt” — hari-hari yang terhitung. Puasa melatih kesadaran bahwa yang terbatas harus dimaknai.
Allah menegaskan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian.”
Puasa bukan penyiksaan. Ia adalah terapi.
- Dalam dunia yang penuh kebisingan, Ramadhan menghadirkan jeda.
- Dalam dunia yang serba cepat, puasa memaksa perlambatan.
- Dalam dunia yang memuja konsumsi, puasa mengajarkan pengendalian.
Jika dunia modern mendorong ekspansi keinginan, Ramadhan mengajarkan reduksi ego. Jika dunia memicu kompetisi tanpa batas, Ramadhan mengingatkan batas. Tak heran jika tujuan akhirnya adalah:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa.”
Takwa adalah kesadaran bahwa hidup tidak semata tentang memenuhi hasrat, tetapi tentang menjaga arah.
Kita hidup dalam zaman yang tidak kekurangan fasilitas, tetapi kekurangan kendali diri. Puasa adalah latihan kendali diri. Dan mungkin inilah alasan terdalam mengapa dunia modern justru semakin membutuhkan Ramadhan. Bukan untuk mengurangi makan, tetapi untuk menata ulang manusia.
Cak Muhid, Pesantren eLKISI, Mojokerto, Jawa Timur.








