Rahasia Usia: Takdir, Syukur, dan Ketetapan di Luar Logika

TROBOS.CO – Kesehatan tidak selalu berkorelasi dengan jatah umur. Orang yang sehat bisa berumur pendek, sementara yang sakit-sakitan bisa panjang umur. Jatah umur sudah menjadi takdir Tuhan yang kadang tak terjangkau logika manusia.

Demikian renungan yang dituliskan Wahyu Utomo dari Surabaya. Ia mengawali catatannya dengan kisah ironis tentang olahragawan yang justru meninggal di usia muda.

banner 1142x1600

Abdoulaye Sékou Camara, pemain sepakbola asal Mali yang membela Pelita Bandung Raya, tiba-tiba rubuh saat latihan di Stadion Siliwangi pada 2013. Ia wafat akibat gagal jantung di usia 27 tahun. Begitu pula Eric Jongbloed, kiper muda Belanda, yang tersambar petir saat pertandingan eksibisi dan meninggal di usia 21 tahun.

Sebaliknya, ada mereka yang kondisi kesehatannya buruk justru mencapai usia lanjut. Hajjah Ashiata Aduke Onikoyi-Laguda dari Nigeria, penderita anemia sickle cell disease (SCD) yang sangat menyakitkan, mampu hidup hingga 95 tahun. Padahal harapan hidup rata-rata penderita SCD hanya 44-48 tahun.

Contoh lain adalah fisikawan ternama Stephen Hawking. Didiagnosis ALS di usia 21, dokter memprediksi ia hanya punya sisa hidup beberapa tahun. Namun, Hawking bertahan hingga 76 tahun dan terus berkarya.

Paul Alexander dari AS bahkan lebih menakjubkan. Terkena polio di usia 6 tahun, ia hidup lumpuh total dan bergantung pada iron lung selama lebih dari 70 tahun. Ia tetap sekolah, menjadi pengacara, menulis buku, dan meninggal di usia 78 tahun.

“Umur adalah wilayah takdir, bukan sekadar logika medis,” tulis Wahyu Utomo. Secara medis, kesehatan memang memengaruhi harapan hidup. Namun secara spiritual, hidup bukan hanya soal kondisi fisik, melainkan ketetapan dan hikmah Ilahi.

Manusia wajib berikhtiar menjaga kesehatan, tetapi hasil akhir tetap berada di luar kendali manusia. Ada kuasa Tuhan yang tak bisa dijelaskan hanya dengan angka dan grafik.

Penutup renungan ini menyentuh. Penulis bercerita tentang pengalamannya di ruang tunggu fasilitas kesehatan. Ia bertemu dengan lelaki tampan yang ternyata menggunakan kaki palsu, kemudian penjual roti yang ramah namun ternyata buta, dan anak tetangga yang tak bisa mendengar.

Setiap pertemuan itu menghantamnya dengan realitas: ia memiliki dua kaki yang sehat, mata yang bisa melihat, dan telinga yang bisa mendengar.

“Ya TUHAN… mohon maaf karena aku telah mengeluh,” tulisnya. “Nikmat apa lagi yang aku ingkari?”

Renungan ini mengajak kita untuk tidak hanya memikirkan panjang-pendeknya usia, tetapi juga mensyukuri setiap detik kehidupan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang telah ditetapkan-Nya.

Teguh Wahyu Utomo adalah aktivis literasi tinggal di Surabaya

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *