TROBOS.CO | SURABAYA – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur memberikan penilaian “Prestasi Tinggi” bagi perkembangan ekosistem ekonomi halal provinsi ini di penghujung 2025. Capaian tertinggi terlihat dari jumlah produk bersertifikasi halal yang menempati posisi terbanyak se-Indonesia, yaitu 26.329 produk per April 2025.
“Angka sertifikasi ini bukan sekadar data administratif. Ini adalah bukti nyata kapasitas industri lokal Jatim yang bergerak cepat dan responsif terhadap tuntutan pasar domestik dan global yang semakin ketat,” tegas Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur, dalam keterangan resmi yang diterima TROBOS, Senin (30/12/2025).
Capaian ini menjadi bagian dari laporan komprehensif Kaleidoskop Kinerja Jawa Timur 2025 Seri-8 yang difokuskan pada sektor strategis ekonomi halal.
Ekonomi halal telah menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai ekonomi produk halal bersertifikasi nasional pada 2025 diperkirakan mencapai Rp 2.247 triliun, dengan pertumbuhan halal value chain sekitar 5% per tahun.
Sebagai provinsi dengan populasi besar dan basis industri kreatif yang kuat, Jawa Timur memiliki posisi strategis untuk menguasai pangsa pasar ini. “Jatim memiliki basis konsumen yang besar dan pelaku UMKM yang tangguh. Ini modal utama untuk membangun ekosistem halal yang tangguh dari hulu ke hilir,” jelas Ulul.
Analisis ICMI Jatim menyoroti dua pilar utama keberhasilan tahun 2025:
-
Sertifikasi Halal Masif: Dengan 26.329 produk tersertifikasi (data iNews, April 2025), Jatim unggul secara nasional. Sertifikasi ini menjadi tiket masuk produk lokal ke pasar domestik yang berkembang pesat dan membuka pintu ekspor ke negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.
-
Kolaborasi Ekosistem melalui Event: Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, aktif mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam East Java Halal Industry Festival 2025. Festival ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga mencakup kompetisi kreator konten halal, menunjukkan pendekatan yang adaptif dengan ekonomi digital.
Prestasi ini didukung oleh penguatan infrastruktur pendukung, seperti:
-
Pembangunan Pusat Layanan Halal (Halal Center) dan Pendampingan Proses Produk Halal (PPH) di berbagai wilayah.
-
Kolaborasi strategis dengan akademisi, seperti peran Pusat Studi Halal ITS dalam Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2025 bersama Bank Indonesia.
-
Kemitraan dengan lembaga keuangan syariah untuk meningkatkan literasi dan akses modal bagi UMKM halal.
“Sinergi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha inilah yang mempercepat kematangan ekosistem,” tambah Ulul.
Indonesia sendiri menduduki posisi puncak dalam Global Islamic Economy Indicator. Dominasi Jatim dalam kontribusi sertifikasi produk halal nasional mengukuhkan perannya sebagai episentrum industri halal Indonesia.
Tabel: Indikator Kinerja Ekonomi Halal Jawa Timur 2025
| Indikator | Capaian Jawa Timur (2025) | Keterangan & Sumber |
|---|---|---|
| Jumlah Produk Tersertifikasi | 26.329 produk | Tertinggi nasional (iNews, April 2025) |
| Festival Industri Unggulan | East Java Halal Industry Festival 2025 | Diselenggarakan Disperindag Jatim (Detik Jatim) |
| Partisipasi Akademik | Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2025 | Kolaborasi Pusat Studi Halal ITS & Bank Indonesia |
| Kinerja Nasional | Signifikan, termasuk pasar besar dunia | Laporan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah |
Meski menyandang gelar Prestasi Tinggi, ICMI Jatim mengingatkan sejumlah tantangan kritis:
- Kesenjangan Distribusi: Sertifikasi masih terkonsentrasi di pusat-pusat kota, perlu pemerataan ke wilayah pinggiran.
- Akses Modal Terbatas: Pelaku usaha mikro dan kecil masih menghadapi kendala pendanaan untuk skalabilitas.
- Optimalisasi Digital: Pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran dan logistik ke pasar global masih dapat ditingkatkan.
Laporan ini menyimpulkan bahwa tahun 2025 merupakan tahun konsolidasi dan akselerasi ekonomi halal Jawa Timur. Fondasi telah kuat dibangun dengan sertifikasi massal dan kolaborasi ekosistem.
“Tugas ke depan adalah mentransformasi prestasi kuantitatif ini menjadi keberlanjutan dan nilai tambah yang inklusif. Dengan mengatasi tantangan distribusi, modal, dan digitalisasi, Jatim tidak hanya akan menjadi pemain utama di tingkat nasional, tetapi juga kekuatan yang diperhitungkan di peta halal global,” pungkas Ulul Albab menutup laporan.
Ulul Albab (Ketua ICMI Jawa Timur)









