Prabowo Wajib Belajar Kembali ke Gus Dur

banner 2560316

TROBOS.CO“Kekuasaan itu kemuliaan.” Narasi ini kalau dibiarkan bisa membahayakan. Cara berpikir salah ini, kalau dipelihara akan menyesatkan. Karena logikanya bisa dibalik: orang yang kalah tidak punya kekuasaan, menjadi hina.

Kekuasaan tidak selalu membawa kemuliaan karena seringkali hanyalah atribut sementara yang menutupi kerapuhan, ambisi pribadi, atau ketidakadilan.

Kemuliaan sejati tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari integritas, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Sebaliknya kekalahan tidak selamanya menjadi kehinaan. Bahkan bisa menjadi Kehormatan dalam Proses: Seseorang yang kalah setelah berjuang dengan jujur dan memberikan usaha terbaiknya tetap memiliki martabat yang tinggi. Kehinaan justru datang ketika seseorang menang dengan cara yang curang atau kehilangan prinsip moralnya.

Gus Dur adalah salah satu orang yang dianggap guru oleh Prabowo. Ia tidak menjadi mulia karena kekuasaan dan menjadi hina karena dijatuhkan. Justru ia menjadi lebih mulia usai dijatuhkan dari kursi Presiden. Ia menjadi tokoh bangsa yang dihormati.

Gus Dur marah dan sangat tidak setuju pada kebijakan Soeharto, tapi dia datangi Soeharto di rumahnya, saat Gus Dur terpilih jadi Presiden.

Gus Dur jelas menganggap Megawati adalah pihak yang menjatuhkan dirinya dari kursi Kepresidenan. Tapi Gus Dur datangi dan makan bersama dengan Megawati.

Alasannya sama: Sebagai manusia, semua saudara. Bahwa laku politiknya menyakitkan, itu tidak mempengaruhi rasa persaudaraan.

Dikritik, dihina personal sehingga disebut presiden buta, tidak demokratis, didemo suruh mundur, Gus Dur tidak marah dan melawan musuhnya dengan menyebut pihak pengkritik memiliki sikap sempit karena tidak menginginkan pemerintah berhasil.

Gus Dur didesak mundur, ia jawab dengan gaya ludrukan Jombang: “wong maju saja gak bisa (harus dituntun) kok disuruh maju.” Ia menghina dirinya untuk mendapat kemuliaan.

Sebaliknya, “murid” Gus Dur yang dijagokan jadi presiden, karena dinilai tulus mengabdi untuk negara, yakni Presiden Prabowo, sering “marah” pada tokoh oposan yang dianggap mengkritik berlebihan.

Prabowo lupa, marahnya Presiden, gelisahnya Presiden tidak boleh ditampakkan apalagi di depan umum. Ini berbahaya kalau bawahannya “menerjemahkan” salah.

Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Prabowo Subianto menyoroti sebagian pengamat yang memiliki sikap sempit karena tidak menginginkan pemerintah berhasil dengan cara menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.

Presiden menyatakan, kritik dan perbedaan pendapat dalam demokrasi merupakan hal yang wajar, namun tidak seharusnya dilakukan dengan tujuan melemahkan negara.

“Pengamat-pengamat ada beberapa macam menurut saya, ada yang memang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil karena berbagai motivasi. Tapi menurut saya, mereka itu ya, menurut saya sikap mereka itu sikap yang sempit, bukan sikap patriotik,” ujar Prabowo seperti dilansir Antara.

Prabowo menyebut persaingan politik merupakan hal yang normal dalam sistem demokrasi, seperti dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, maupun pemilihan presiden yang berlangsung setiap lima tahun. Namun setelah proses politik selesai, seluruh pihak seharusnya bersatu untuk menjaga dan memperkuat negara.

“Pengamat-pengamat menurut saya, ada yang motivasinya ingin menimbulkan kecemasan rakyat. Saya juga tidak mengerti pemikirannya seperti apa, karena kita satu negara, ini kan satu kapal kalau kapalnya oleng, mereka juga oleng,” katanya.

Bahkan Prabowo sering gunakan bahasa dan narasi yang kurang tepat sebagai sosok presidennya jutaan rakyat, orang kecil yang hidupnya masih susah. Seperti memberitahu rakyat bahwa intelijen disebar di tengah masyarakat.

“Pemerintah memiliki berbagai data dan laporan intelijen terkait berbagai pihak yang mencoba mempengaruhi opini publik. Pemerintah akan menertibkan berbagai praktik yang merugikan negara, termasuk korupsi.”

Menurutnya, saat ini pemerintah tetap mengedepankan pendekatan yang berbasis bukti dan keyakinan bahwa masyarakat akan memahami langkah-langkah yang diambil pemerintah.

Presiden juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi tantangan global, termasuk kemungkinan kondisi ekonomi yang sulit. Meski demikian, ia optimistis Indonesia memiliki kekuatan besar untuk menghadapi berbagai krisis.

“Kita menghadapi tantangan, kita siap skenario-skenario yang paling buruk. Tapi kita punya kekuatan, negara kita punya kekuatan yang besar tinggal kita mengelolanya sebagaimana pernah kita atasi krisis-krisis yang besar.”

Tiga Catatan untuk Presiden

Catatan penulis ada tiga hal:

Pertama: Presiden Prabowo wajib belajar kembali ke Gus Dur. Minimal belajar dari apa yang dilakukan Gus Dur. Datangi musuh-musuh politiknya. Ini langkah yang menentramkan rakyat. Langkah ini mengalahkan jutaan kata-kata. Beda politik, beda jalan pikiran diizinkan demokrasi. Cara ini pasti akan diterjemahkan beda bawahan Presiden.

Kedua: Pengamat politik yang dinilai presiden melemahkan dan mempengaruhi publik, datangi, undang ajak diskusi. Terima masukan dengan lapang dada. Cara ini akan melahirkan anak buah presiden yang mau datang ke kampus untuk dialog. Ke ormas untuk menjaring pendapat. Bagi tugas atasi masalah dengan dialog ini belum terdistribusikan dengan baik.

Ketiga: Jangan kaget kalau kekerasan pada aktivis mahasiswa dan pro demokrasi sering terjadi, jelas bukan perintah Presiden, tapi itu menerjemahkan narasi presiden dengan cara yang salah.

Belum lagi, oposisi Presiden bisa gunakan ragam cara untuk menghidupkan stigma lama, yang sempat menjadi trauma politik. Ini wajib dicermati.

Solusi

Jajaran aparat hukum cepat bertindak, menteri yang sudah senior di bidang hukum, datangi aktivis atau undang dialog. Cara-cara ini menentramkan rakyat.

Yusron Aminulloh, Wartawan Senior.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *