TROBOS.CO | LUMAJANG – Pengajian rutin Wal Ashri di Tegalrejo, Tempursari, Lumajang, menghadirkan tema yang tak biasa namun sangat krusial: parenting dan kenakalan anak. Drs. Urip, narasumber sekaligus mantan guru SLB yang hadir pada Sabtu malam (24/1/2026), membedah penyebab dan solusi berdasarkan pengamatan panjangnya di dunia pendidikan.
Drs. Urip memaparkan beberapa pola yang kerap menjadi penyebab anak berperilaku “nakal”. Pertama, faktor urutan kelahiran. Anak pertama dan anak terakhir cenderung menginginkan perlakuan istimewa. Jika harapan ini tidak terpenuhi, mereka bisa berulah untuk menarik perhatian.
Kedua, menjadi anak tunggal. Status sebagai satu-satunya anak seringkali menumbuhkan perasaan istimewa tanpa “pesaing”. Ketika orang tua tidak memenuhi ekspektasinya, ia bisa menunjukkan sikap negatif.
Ketiga, dimanjakan dan “dianakemaskan”. Orang tua, tegas Drs. Urip, harus berlaku adil. Memperlakukan anak secara setara mencegah timbulnya kecemburuan dan tuntutan berlebihan.
Keempat, “sangu” (uang jajan) yang terlalu besar. Anak yang dimanjakan secara materi bisa mengembangkan sikap merendahkan teman dan merasa berkuasa, yang memicu perilaku negatif. Bahkan, memiliki uang lebih bisa membuat anak menjadi “target” teman-temannya untuk mentraktir, yang justru menimbulkan tekanan dan akhirnya “bertingkah”.
Menyambung pembahasan, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, Zainal Abidin, S.Pd., menawarkan solusi strategis: menjadikan masjid sebagai rumah kedua yang menarik bagi anak muda.
Masjid, menurutnya, harus berubah dari sekadar tempat shalat menjadi pusat aktivitas dan solusi moral. Beberapa langkah kreatif yang ia usulkan:
-
Memfasilitasi Kebutuhan Dasar: Menyediakan makanan (nasi) dan minuman (kopi) agar anak merasa nyaman dan betah.
-
Mengakomodasi Gaya Hidup Modern: Menyediakan akses WiFi gratis untuk menarik minat mereka sekaligus memfasilitasi pencarian ilmu yang bermanfaat.
-
Mengadakan Kegiatan Menarik: Merancang agenda seperti tadabbur alam (rekreasi edukatif) untuk mengenalkan keagungan ciptaan Allah.
-
Memikirkan Masa Depan Mereka: Bahkan, takmir bisa berperan sebagai penjodoh yang membantu mencari calon pasangan hidup, sehingga anak muda merasa diperhatikan secara utuh.
Strategi ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Zainal Abidin melihatnya sebagai investasi jangka panjang. Dengan melayani dan memenuhi kebutuhan mereka secara manusiawi—mulai dari perut, hiburan, hingga masa depan—akan tumbuh kesan mendalam. Dari situlah lahir keterikatan emosional, yang pada akhirnya akan mencetak generasi penerus yang siap mengelola dan menghidupkan masjid di masa depan.
Pengajian malam itu pun ditutup dengan wawasan baru: bahwa mendidik anak perlu pemahaman psikologis yang mendalam, dan membangun akhlak mereka memerlukan strategi yang kreatif dan penuh kasih, dimulai dari lingkungan terdekat seperti masjid.
Tim TROBOS.CO









