TROBOS.CO | “Intazhir ilā mā ba‘da ‘īd” – Tunggu setelah Lebaran. Saya hanya bisa pasrah membaca pesan singkat itu. Nilai ujian saya tidak muncul di sistem dan baru bisa diurus usai libur Lebaran. Bagaimana saya bisa menikmati Lebaran ini? batin saya.
“Bagaimana kalau saya harus mengulang ujian?” protes saya.
“Masalahnya apa? Kamu ke sini untuk belajar. Tidak masalah kan, kalau kamu harus mengulang ujian?” jawab dosen saya santai.
Astaghfirullah!
Itu hanya salah satu drama yang harus saya lalui saat berjuang menuntut ilmu di Mesir. Terasa berat, karena pola pikir yang masih sangat “Indonesia”: Belajar untuk lulus ujian.
Sekalipun saya tidak pernah mengejar gelar, karena gelar-gelar akademis saya tak pernah saya gunakan, namun mindset harus lulus ujian rasanya seperti debt collector yang terus mengejar siang-malam.
Sementara di Mesir, sejak kecil yang ditanamkan adalah belajar untuk ilmu. Tidak masalah bagi mereka harus terus belajar, bahkan mengulang-ulang ujian.
Sebagaimana yang dikisahkan Imam Al-Ghazali ketika berada di Mesir: “Tidak pernah aku jumpai, melainkan setiap bertemu alim, mereka mengujiku.”
Hari-hari ini, perbedaan nyata hasil pendidikan terlihat bagaimana para pemimpin Iran menghadapi agresi Amerika-Israel.
Dalam perang asimetris, kalau hanya mengandalkan kekuatan militer saja, sudah pasti Iran babak belur dalam hitungan hari. Namun nyatanya, dengan kecerdikan dan strategi yang luar biasa, mereka tak hanya mampu melawan, tapi sekaligus berhasil mempermalukan Amerika-Israel di mata dunia layaknya pecundang.
Hal itu bukan sesuatu yang mengherankan sebenarnya, kalau melihat latar belakang pendidikan para pemimpinnya saat ini.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian adalah seorang dokter spesialis jantung yang pernah menjabat sebagai rektor Tabriz University of Medical Sciences, sebelum terjun ke dunia politik dan menjabat sebagai presiden.
Wakil Presiden Mohammad Reza Aref, latar belakang akademisnya lebih mengesankan lagi. Ia seorang professor di bidang Electrical and Communication Engineering. Di Google Scholar, karya ilmiahnya disitasi ribuan kali.
Bahkan di tengah kondisi negara yang genting, ia masih sempat membuat publikasi ilmiah di IEEE Transactions on Information Theory. Ini bukan jurnal kaleng-kaleng, namun level “dewa”, tempat para ilmuwan top dunia saling adu otak.
Begitupun Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang mendapat gelar PhD dari University of Kent dengan fokus pemikiran politik. Jawaban-jawabannya yang sangat cerdas saat ditanya wartawan, membuatnya viral di kalangan Gen Z.
Salah satu pernyataannya yang sangat populer: “Kami tidak bicara dengan setan di bulan Ramadhan,” menanggapi ocehan Trump yang mengatakan telah melakukan negosiasi dengan Iran.
Coba bandingkan dengan para pejabat negeri tercinta. Bahkan jelas-jelas anak bangsa dihabisi pasukan kera pun, tak bisa apa-apa.
Uttiek









