TROBOS.CO | Sejak terbukanya hidayah terhadap kawan kita Zorrow, di sela-sela jam kerja dan waktu-waktu senggang, hari-hari berlalu penuh semangat belajar mengerjakan sholat dengan sebaik-baiknya.
Mulai dari cara berwudhu yang benar, cara mandi yang benar, bacaan surat Al-Fatihah, surat-surat pendek, hingga rukun dan tata tertib sholat yang sesuai contoh Rasulullah, tak bosan-bosannya ditanyakan dan dipraktikkan tanpa canggung.
Hingga suatu siang, setelah sholat Dzuhur seusai berdzikir, sambil bersalaman, tangan saya dia pegang erat setengah ditarik.
“Apa sudah boleh aku tanyakan tentang manfaat sholat buatku sekarang?” tanyanya sambil memandang penuh harap.
“Tentu saja,” jawabku. “Bukankah sekarang sudah mulai terasa lebih lapang dadamu?”
“Iya juga sih, benar juga..” jawabnya sambil mengangguk yakin.
“Tapi… ini tentang hubunganku dengan istriku, Hening..” dia menghela nafas.
“Christian minta supaya aku segera menceraikannya. Or he will kick off both of us!” katanya dengan nada berat dan genangan air menggantung di sudut matanya.
“Boss minta selambatnya bulan depan sudah clear!” imbuhnya sambil perlahan melepas genggaman tangannya. Tatapan matanya meredup sayu, seolah baginya langit mungkin mau runtuh. Belum pernah kulihat tampang sangarnya bisa berubah sedemikian mengharu biru. Kedua teman pelukis kami lainnya pun ikut iba kasihan mendengar keluh kesahnya.
Aku juga terhanyut ikut sedih dan masygul mendengarnya. Yang kuketahui, si Hening, istri Zorrow, bekerja sebagai customer service di Art Gallery milik Christian di Ubud. Sejak kami mulai akrab, Hening juga beberapa kali diajak Zorrow bertandang ke home stay kami di Sanur. Meski agak canggung dengan penampilannya yang masih belum berhijab, sesekali ia mau ikut berbaur dengan kawan-kawan komunitas Muhajirin di masjid Al-Ihsan Sanur.
“Jadi bagaimana..?” tanyanya lirih menghalau keheningan yang menyesak dada.
“Dia sekarang lagi hamil 2 bulan…” tambahnya.
“Baiklah, tapi maaf, kondisi ini memang membutuhkan keteguhan hati dan ketabahan dalam mempertahankan prinsip, karena boleh jadi kalian akan menerima konsekuensi yang relatif berat..” jawabku.
“Seandainya hal ini menimpa aku, maka yang jadi pijakan utama adalah niat awalku, bahwa semua yang kulakukan adalah hanya untuk melaksanakan kewajiban beribadah kepada-Nya semata, tak ada lain, kecuali untuk menjalankan perintah-Nya saja, termasuk dalam bekerja sekarang ini.”
“Bagiku, tak ada yang lebih utama selain bersyukur dan bersabar dalam menjalani dinamika kehidupan. Maka ketika mendapat ujian memilih salah satu dari dua hal ini, pilihanku adalah bersabar mempertahankan keutuhan keluarga tanggunganku. Rezeki bukan hanya dari tangan Christian, dia cuma perantara saja. Akan kusampaikan kepadanya, jangankan pekerjaan ini, bahkan nyawaku akan kupertaruhkan untuk melindungi keluargaku!”
“Tapi tentunya semua kembali kepada kita, apakah benar sholat yang kita upayakan sebaik-baiknya ini murni menghambakan diri kepada-Nya, atau sekadar hanya karena menginginkan sesuatu selain dari keridhoan-Nya. Maka segera luruskan niat, dan Allah Yang Maha Perkasa akan menegarkan hati dan lisan kita untuk mampu menyampaikan kalimat tegas dan jelas kepada siapapun, termasuk kepada seorang Christian!”
“OK, baiklah kawan… akan kusampaikan seperti itu ke boss. Dia cuma manusia biasa, orang kafir pula, dan aku pasti lebih diistimewakan Allah meski baru kemarin sore mulai mengerjakan sholat… hehe…! Terima kasih, pren..!” jawabnya dengan mantap.
Alhamdulillah… (Insya Allah bersambung)
Ezet Muttaqin









