TROBOS.CO | Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Ir. Nugroho Dwi Atmoko tentang acara bakti sosial Bikersmu membina komunitas rider Mapan (mati kapan-kapan) yang dimuat Trobos.co tertanggal 22 Februari 2026 kemarin.
Pada suatu waktu, sekitar tahun 2003-an, penulis mendapat kesempatan berkiprah di pulau Bali sebagai seorang painter (pelukis). Kami bekerja di salah satu painting workshop milik pengusaha asing berdarah Belanda.
Di sana kami bekerja berempat, para pelukis terpilih melalui seleksi ketat yang diikuti sekitar 30an pelukis dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dengan penekanan karya bertema landscape aliran dadaisme gaya Ton Schulten, yang oleh Christian (boss Belanda) diistilahkan sebagai aliran Consensism.
Singkat cerita, kami berempat oleh boss Christian difasilitasi tinggal dan berkarya di Sanur Bali, dengan satu nama yang diterakan pada kanvas dengan nama samaran Lony Wing. Yang lebih dahulu masuk nominasi sebelum kami adalah seorang pelukis berinisial S alias Zorrow, sebagai team leader kami yang oleh boss dipersonifikasikan sebagai Lony Wing asli.
Sosok Zorrow: Nyentrik dan Temperamental
Sebagaimana kebanyakan seniman Bali, Zorrow – sehari-hari berpenampilan nyentrik: bertato, rambut gondrong, pakai anting, celana jeans belel, bersabuk tebal dengan aksesori rantai menggelayut ke dompet saku belakang. Wajah kucel, perokok berat, bau alkohol, dan temperamental.
Sejak semula kami bertemu di studio kerja, seringkali sudut mata dan tegur sapanya terkesan meremehkan dan menganggap rendah kami para pelukis rekan-rekan kerjanya yang lain.
Ejekan Setiap Kali Salat
Seperti biasa, pada jam-jam waktu salat dzuhur dan ashar (di studio – sewaktu hari kerja), saya selalu berupaya tepat waktu menggelar sajadah untuk melaksanakan salat fardu di ruang kerja. Tak ada musala, dan untuk salat berjamaah lokasi masjid terdekat di Masjid Al-Ihsan Sanur sekitar 5 km dari workshop, lumayan jauh.
Dari semula, sewaktu saya mengerjakan salat, seringkali kawan satu ini suka mengejek:
- “Yang gak pantas jadi pelukis lah!”
- “Yang sok alim lah!”
- “Teroris kesasar lah!”
dan sebagainya.
Pertanyaan Tak Terduga
Sampai suatu saat, seusai salat dzuhur, sambil santai menikmati makan siang, si Zorrow sang jagoan neon mendekatiku dengan wajah serius. Perlahan ia bertanya dengan kalimat terbata:
“Apakah… salat bisa mendatangkan manfaat buat yang mengerjakannya?”
Sedikit tersentak, saya jawab: “Tentu saja sangat bermanfaat!”
Sambil berbisik mendekatkan mulutnya, ia melanjutkan: “Saya ada masalah berat. Apakah bisa terselesaikan dengan salat?”
“Yakin bisa,” jawab saya.
“Tapi sudah lama sekali aku gak pernah salat,” sambungnya.
“Kalau gerakannya aku yakin masih lincah, tapi manteranya sudah agak lupa!” paparnya lagi.
“Masya Allah… Alhamdulillah..” syukurku dalam hati.
Suasana Studio Berubah
Maka sejak hari itu, rasanya ruang studio yang ber-AC serasa mulai sejuk segar, tak seperti hari-hari kemarin yang pengap panas oleh suasana kerja yang tak kondusif.
Dengan turunnya hidayah kepada team leader kami, sejak saat itu pula kami berempat seringkali mengerjakan salat dzuhur dan ashar berjamaah di studio. Terkadang juga saya ajak ikut pengajian bergabung dengan komunitas Muhajirin di Masjid Al-Ihsan Sanur. (Bagaimana kelanjutannya? Insya Allah bersambung)
Ezet Muttaqin







