Menuju Hidup Bahagia: Harta, Title, Prestasi, atau Agama?

banner 2560316

TROBOS.CO | Tujuan hidup: ingin bahagia, dunia dan akhirat. Untuk menuju ke sana, ada beberapa pendapat.

Bahagia Itu Harta? Ternyata Tidak

Ada yang mengatakan, bahagia bisa diraih jika banyak harta. Orang berlomba-lomba—siang malam—bekerja agar mendapat harta yang banyak.

Pendapat ini terbantahkan. Banyak orang kaya tapi hidupnya gelisah. Tidak tenang. Bahkan selalu konflik dengan sesama gara-gara harta.

Bahagia Itu Title? Juga Bukan

Ada yang berpendapat, bahagia itu diraih jika punya title banyak. Ternyata ada orang yang mempunyai sederet title tapi tidak kunjung bahagia.

Di dunia ini ada orang yang theaternya sampai 32 macam. Sedang di Indonesia ada yang punya 17 title. Tetapi title itu bukan jaminan langsung bahagia.

Ada yang khawatir tidak bisa mempertanggungjawabkan titelnya di depan publik. Ketika diminta pendapat, harus memeras otak supaya pendapatnya bernas, luas, dan mendalam serta memberi solusi terbaik.

Bahagia Itu Prestasi? Masih Juga Belum

Pendapat lain: bahagia itu bisa diraih jika memiliki banyak prestasi. Ternyata banyak orang prestasinya cukup hebat dan terkenal, tetapi penemunya malah bunuh diri.

Dengan pengalaman empirik tersebut, orang semakin bingung bagaimana cara meraih bahagia. Ada yang mencoba lewat nama besar, jabatan, dan pintu-pintu lain. Tetapi bahagia tidak kunjung datang.

Jawabannya: Lewat Jalur Agama

Pendapat yang tidak terbantahkan mengatakan: bahagia dirasakan lewat jalur agama.

Semakin dalam ilmu dan amaliah agamanya, berpeluang kuat merasa bahagia.

Coba lihat para agamawan. Mereka hidupnya sederhana tapi tenang. Tidak banyak materi, title, dan prestasi. Tapi damai, damai.

Dunia bisa rukun, aman, sejahtera, dan bahagia jika masyarakatnya beragama dengan baik.

Syukur Kunci Bahagia

Orang beragama itu bisa mensyukuri nikmat Allah walau jumlah nikmatnya tidak banyak. Mereka termotivasi ditambah nikmat yang lain kalau berterima kasih kepada-Nya.

Nikmat itu bermacam-macam:

Nikmat hidup. Waktunya terbatas antara 60 sampai 70 tahun. Bentuk syukur terhadap nikmat hidup adalah menorehkan kebaikan di tengah masyarakat.

Nikmat agama. Agama merupakan faktor pendukung utama datangnya bahagia.

Nikmat mati. Setiap orang pasti mati. Jauh lebih penting dari mati adalah pertanggungjawabannya. Kalau selama hidup mencari bekal (sangu) untuk akhirat, kematian yang dialami seseorang pasti menyenangkan.

Tetapi kalau selama hidup terlena dengan godaan hidup yang menawarkan “bahagia sesaat”, mereka bakal mengalami rugi besar, penuh derita.

Semoga kita mampu menjadi orang baik. Yaitu suka menebar banyak manfaat. Mereka dirindukan orang lain. Dan, kelak dikenal sejarah.

Suharyo, pemerhati masalah sepele.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *