Menembus Langit: Ternyata Ini “Sulthan” Rahasia di Balik Ayat Gerhana dan Shalat Khusuf

TROBOS.CO – Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka juga harus dengan ilmu.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menegaskan dominasi ilmu sebagai fondasi segala aspek kehidupan. Al-Qur’an pun mengisyaratkan hal serupa saat mengabadikan momen pengajaran Allah SWT kepada Nabi Adam AS mengenai nama-nama benda (Al-Baqarah: 31). Peristiwa ini menandakan bahwa kapasitas untuk mengenali, menamai, dan memahami hakikat sesuatu adalah karunia intelektual (akal) yang membedakan manusia dari makhluk lain.

banner 1280x716

Proses berpikir yang melibatkan membaca, menganalisis, memahami, dan merenung inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan.

Allah SWT berfirman: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fushshilat: 53).

Ayat ini menjadi landasan bahwa tafakur (perenungan mendalam) terhadap alam semesta dan diri sendiri adalah sumber ilmu yang utama. Dari proses ini, lahir berbagai cabang ilmu yang dapat diklasifikasikan:

  1. Ilmu Eksak (Nyata): Ilmu yang terukur dan dapat diuji melalui eksperimen fisik. Contoh: Fisika, Kimia, Biologi.

  2. Ilmu Abstrak (Rasional): Konsep logis yang dibangun di atas rasio, tidak selalu memerlukan eksperimen fisik. Contoh: Logika, Filsafat, Matematika Murni.

  3. Ilmu Relatif Abstrak: Ilmu yang interpretasinya bergantung pada perspektif dan paradigma manusia. Contoh: Psikologi, Ekonomi, Ilmu Sosial Politik.

  4. Ilmu Absolut Abstrak: Kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu dan tidak berubah. Contoh: Ilmu tentang Allah, Malaikat, Hari Akhir, Surga, dan Neraka.

Luasnya ilmu Allah bagaikan samudra tak bertepi. Al-Qur’an bahkan memberi tantangan yang menarik perhatian: “Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah! Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan sulthan (kekuatan/otoritas).” (QS. Ar-Rahman: 33).

“Menembus bumi” dapat dimaknai sebagai penguasaan terhadap hukum-hukum alam di dunia (sains dan teknologi). Sedangkan “menembus langit” adalah pencapaian spiritual untuk memahami realitas di balik alam fisik.

Kata kunci utamanya adalah “sulthan”. Kata ini sering diterjemahkan sebagai kekuatan, otoritas, atau energi. Manusia, dengan segala keterbatasan fisik dan teknologinya, mustahil menembus lapisan langit secara fisika. Namun, adanya tantangan ini justru mengisyaratkan peluang.

Peluang itu terletak pada “sulthan” spesial yang dianugerahkan Allah khusus kepada manusia, yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu melalui tafakur yang mendalam dan shalat yang khusyuk.

Imam Al-Ghazali menggambarkan tafakur sebagai perjalanan spiritual dari alam dunia menuju akhirat melalui tiga fase:

  1. Pengetahuan Primitif (Al-Ilm Al-Basith):
    Hanya melihat fakta apa adanya. Misal: melihat unta di padang pasir.

  2. Fase Persepsi Mendalam (Adz-Dzauk):
    Berpikir tentang proses di balik fakta. Misal: Mengapa unta tahan panas, hemat air, dan matanya terlindung dari badai pasir? Di sini, analisis sains bertemu dengan kesadaran akan desain yang sempurna.

  3. Fase Pengambilan Pelajaran (Al-I’tibar):
    Inilah puncak tafakur, sebuah pengalaman transenden yang melampaui akal biasa.

    • Dzikir dan Pikir Menyatu: Menyadari Allah sebagai Realitas Tertinggi di balik segala fenomena.

    • Dari Ilmu Menuju Penyaksian (Ma’rifah): Membaca ayat-ayat kauniyah (alam semesta) sebagai petunjuk langsung dari Allah.

    • Penyucian Batin: Fase ini mensyaratkan pensucian hati dari sifat iri, dengki, sombong, dan munafik (QS. Al-Hajj: 46), serta penyucian lahir melalui wudhu. Tujuannya adalah membuka “hijab” batin agar hati (qalb) dapat menyaksikan kehadiran Ilahi.

I’tibar adalah proses repetitif dan konsisten, ibarat menggosok besi hingga menjadi jarum, yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati (istiqamah).

Jika tafakur adalah pendakian dengan pikiran dan hati, maka shalat khusyuk adalah pendakian total—jiwa, raga, dan ruh. Shalat khusyuk adalah keadaan di mana hubungan dengan alam benda terputus sementara, memasuki alam kesadaran spiritual tinggi (super conscious), dan jiwa beresonansi dengan cahaya Ilahi (Nur).

Allah berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) itu dan apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu sebagai cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52).

Puncaknya adalah pada shalat tahajud, yang Allah sebut sebagai “perkataan yang berat” (QS. Al-Muzzammil: 5). Pada sepertiga malam terakhir, ketika hati paling jernih (qalbun salim) dan nafsu telah tenang (mutmainnah), seorang hamba memiliki kesempatan untuk mengalami “mi’raj ruhani”—bertemu dan mendekatkan diri kepada Allah dalam kadar yang Allah kehendaki.

Tantangan untuk “menembus langit dan bumi” bukanlah perintah untuk eksplorasi fisik semata, melainkan seruan untuk integrasi ilmu.

  1. “Menembus Bumi” dengan ilmu eksak dan teknologi (sains).

  2. “Menembus Langit” dengan ilmu spiritual melalui tafakur dan shalat khusyuk.

Kedua jalur ini, ketika disatukan dengan “sulthan” berupa tauhid dan pensucian diri, akan mengantarkan manusia pada pemahaman yang holistik tentang dirinya, alam semesta, dan Penciptanya. Inilah jalan untuk meraih ilmu yang tidak hanya memajukan dunia, tetapi juga mengantarkan kepada keridhaan-Nya di akhirat.

Penulis: Ir. Widodo Djaelani, alumni Universitas Muhammadiyah Lumajang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *