TROBOS.CO | Suatu pagi, rutinitas kerja saya terhenti di titik yang tak terduga: kolom password. Jari-jari mengetik kombinasi yang selama ini terasa otomatis. “Salah.” Coba lagi. “Salah.” Hingga akhirnya, notifikasi dingin muncul: “Anda telah melebihi batas percobaan. Silakan coba lagi nanti.”
Saya terdiam. Bukan karena akun itu sangat penting, tapi karena keheranan. Bagaimana mungkin saya lupa sesuatu yang saya anggap remeh dan pasti? Password itu tidak hilang, tidak dicuri. Ia hanya… terlupakan.
Di dunia digital, password adalah gerbang. Ia menentukan akses atau penolakan. Tanpanya, data dan akun sepenting apa pun menjadi tak berguna.
Ironisnya, kita baru menyadari nilainya saat tak bisa mengingatnya. Saat itu, saya pun terpikir: Bukankah hidup kita juga punya ‘password’?
Kita diberi akses ke kesehatan, waktu, keluarga, dan peluang. Kita ‘login’ ke berbagai fase hidup dengan mudah, seolah semuanya otomatis. Namun, kerap kali kita lupa bertanya: “Apa kunci untuk ‘masuk’ ke kehidupan yang sesungguhnya, yang abadi?”
Dalam perspektif agama, dunia hanyalah fase login sementara. Akan tiba saatnya kita ‘logout’ dan berdiri di hadapan-Nya. Saat itu, hidup tak lagi diukur dari kesibukan, ketenaran, atau harta, tetapi dari sesuatu yang mendasar: iman dan amal.
Masalahnya, banyak dari kita hidup seolah ‘password’ akhirat itu akan selalu ingat. Kita menunda shalat, menunda meminta maaf, menunda taubat, dan menunda berbuat baik. Persis seperti keyakinan saya pagi itu, “Nanti juga ingat password-nya.”
Padahal, hidup memiliki batas percobaan. Ada waktu di mana kesempatan untuk reset password—yang bernama taubat—sudah tidak tersedia lagi.
Lupa password akun hanya menghambat pekerjaan beberapa jam. Tapi, lupa tujuan hidup dapat menghambat keselamatan yang abadi.
Yang menggelisahkan, lupa seringkali bukan karena tak tahu, tapi karena jarang dipraktikkan dengan kesadaran penuh. Kita menghafal password secara mekanis, tanpa makna. Sama halnya dengan ritual ibadah atau kebaikan—bisa jadi kita lakukan rutin, tapi tanpa kehadiran hati dan pemahaman akan tujuannya.
Barangkali, kejadian kecil seperti lupa password ini adalah cermin yang Allah hadirkan. Sebuah reminder dalam format yang sangat modern dan relatable.
Semoga, setelah ini, setiap kali jari-jari ini mengetik kombinasi huruf dan angka, hati juga ikut bertanya: “Apakah aku masih ingat ‘password’ untuk pulang kepada Tuhan? Apakah amal dan taubatku sudah cukup untuk mendapatkan akses itu?”
Karena sesungguhnya, di akhirat nanti, tidak ada menu “Lupa Password.” Yang ada hanyalah pertanggungjawaban atas setiap ‘login’ yang kita lakukan di dunia.
Teguh Wahyu Utomo, Aktivis Literasi & Pengurus Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Jawa Timur.









