Literasi Bencana: Kunci Mencegah Tragedi Sumatera Terulang

TROBOS.CO | Lebih dari 600 nyawa melayang. Itu bukan sekadar angka statistik, melainkan deretan duka yang menyelimuti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara akibat tanah longsor dan banjir bandang hebat yang dipicu siklon tropis Senyar dan diperparah deforestasi.

Tragedi di utara Pulau Sumatera itu adalah alarm keras. Ia mengingatkan kita pada kenyataan pahit: Indonesia belum siap hidup berdampingan dengan bencana, padahal negeri ini berdiri di atas kawasan paling rawan bencana di dunia.

banner 1280x716

Dalam setiap peristiwa, masyarakat kerap tampak kaget, panik, dan gagap. Yang hilang bukan hanya jiwa, tetapi juga masa depan keluarga, harapan ekonomi, serta benteng psikologis yang terus diguncang rasa takut. Di sinilah literasi kebencanaan menjadi kebutuhan yang tak lagi bisa ditunda.

Kita sering menyalahkan hujan ekstrem, perubahan iklim, atau pembukaan lahan. Semua itu memang faktor kunci. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari diskusi serius: minimnya pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Banyak warga tinggal di daerah rawan tanpa memahami risikonya. Rumah dibangun di bantaran sungai atau lereng bukit tanpa pertimbangan keselamatan. Saat tanda-tanda alam muncul—seperti retakan tanah, suara gemuruh, atau pohon yang mulai miring—banyak yang tak mengenalinya sebagai peringatan. Ketika air bah datang, baru disadari bahwa tidak ada tas siaga (emergency kit), tidak ada titik kumpul keluarga, bahkan tidak tahu ke mana harus menyelamatkan diri.

Literasi kebencanaan bukan teori di atas kertas. Ia adalah keterampilan hidup (life skill) yang konkret: kemampuan membaca tanda alam, memahami peta risiko, mengambil keputusan cepat, sekaligus tetap tenang dalam situasi kacau.

Jepang telah membuktikan, pendidikan kebencanaan yang konsisten dan terintegrasi mampu menyelamatkan ribuan nyawa meski menghadapi risiko gempa dan tsunami yang sangat besar. Mereka membangun budaya sadar risiko yang tertanam kuat di sekolah, rumah, dan lingkungan sosial. Inilah yang harus kita tiru.

Sayangnya, di Indonesia, literasi kebencanaan masih bersifat sporadis dan reaktif. Pelatihan sering baru digelar setelah bencana terjadi, sekadar formalitas atau ritual tahunan. Padahal, edukasi harus berjalan terus-menerus dan proaktif.

Masyarakat memerlukan:

  • Pembelajaran matang dan simulasi rutin di sekolah-sekolah.

  • Informasi visual yang jelas di ruang publik tentang jalur evakuasi dan titik aman.

  • Pelatihan pertolongan pertama dan manajemen bencana berbasis komunitas di tingkat desa.

  • Konten edukatif yang mudah diakses melalui media sosial dan platform digital.

Tanpa kesiapan ini, setiap bencana akan terus mengulang pola yang sama: masyarakat tak siap, pemerintah kewalahan, dan korban terus berjatuhan.

Melihat skala korban di Sumatera, wajar jika banyak pihak bertanya, “Mengapa ini terjadi?” Namun, ada pertanyaan yang lebih mendesak: “Mengapa kita tidak pernah belajar?”

Sudah terlalu sering kita menganggap bencana sebagai takdir semata, seolah tak ada ruang untuk mengurangi risikonya. Padahal, di balik setiap korban yang jatuh, selalu ada celah kesiapsiagaan yang hilang—baik dari sisi pendidikan, perencanaan tata ruang, hingga kepedulian warga terhadap keselamatan diri dan lingkungan.

Hari ini, ratusan nyawa telah hilang. Mereka adalah orang tua, anak-anak, saudara, dan tetangga kita. Tragedi Sumatera ini harus menjadi titik balik.

Literasi kebencanaan bukan lagi sekadar opsi atau slogan. Ia adalah kebutuhan hidup (basic need) bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kita tidak bisa mengendalikan alam, namun kita bisa dan harus mengendalikan tingkat kesiapan kita.

Kesiapan itu hanya bisa dibangun dari tiga pilar utama:

  1. Pengetahuan yang mudah dipahami dan diakses.

  2. Latihan (simulasi) yang rutin dan realistis.

  3. Budaya sadar risiko yang ditanamkan sejak dini di semua lini masyarakat.

Mari jadikan duka ini sebagai momentum untuk bergerak. Bangun kesiapsiagaan, selamatkan generasi mendatang.

Penulis: Teguh W. Utomo

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *