Khusyu’ Intrinsik dan Ekstrinsik: Kunci Shalat yang Hakiki

TROBOS.CO | Sungguh beruntung orang beriman. Yaitu mereka yang shalatnya khusyu’ (Al Mu’minun: 1-2).

Ayat ini sering kita dengar, tapi apa sebenarnya makna khusyu’ yang sesungguhnya? Ulama menjelaskan, syarat khusyu’ itu ada tiga pondasi utama.

banner 1142x1600

Pertama, hadirnya hati (hudurul qolb) atau ingat kepada Allah sejak takbiratul ihram hingga salam. Kedua, memahami makna bacaan shalat (tafahum) yang diucapkan. Ketiga, mewujudkan pesan shalat itu dalam kehidupan nyata.

Dari ketiga syarat itu, muncul pengkategorian yang menarik. Shalat khusyu’ ternyata memiliki dua dimensi: khusyu’ intrinsik dan khusyu’ ekstrinsik.

Khusyu’ intrinsik adalah kekhusyukan di dalam shalat itu sendiri. Hati yang fokus, pikiran yang tidak kemana-mana, dan pemahaman akan setiap bacaan. Sementara khusyu’ ekstrinsik adalah penerapan kekhusyukan di luar shalat, yaitu dalam praktik hidup sehari-hari.

Orang mukmin yang beruntung adalah mereka yang mampu menyelaraskan keduanya. Tidak ada ketimpangan antara ritual dan realita.

Idealnya, khusyu’ intrinsik akan memancar menjadi khusyu’ ekstrinsik. Orang yang khusyu’ dalam shalatnya, pasti perilaku sehari-harinya baik. Inilah tipe manusia yang kata dan perbuatannya selaras.

Namun, realitanya sering berbeda. Tidak jarang kita jumpai, atau bahkan alami, ketidaksesuaian antara dua dimensi khusyu’ ini.

Ada yang shalatnya tampak khusyu’, tetapi bicara dan sikapnya kasar kepada sesama. Ada yang khusyu’ di masjid, tetapi di luar suka menipu, tidak jujur, atau ingkar janji.

Bahkan, ada yang rajin shalat tetapi malas bekerja, tidak produktif, dan tidak maksimal dalam tanggung jawab duniawinya. Perbuatan-perbuatan ini jelas bertentangan dengan pesan shalat yang seharusnya membentuk karakter.

Shalat bukan sekadar ritual penghubung vertikal antara hamba dan Rabb-nya. Ia juga mengandung muatan sosial yang kuat. Doa-doa dan bacaan di dalamnya penuh dengan pesan moral, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab.

Karena itu, kekhusyukan yang hakiki harus mewujud dalam dua bentuk: khusyu’ vertikal (kepada Allah) dan khusyu’ sosial (kepada sesama makhluk).

Mari kita evaluasi dan perbaiki shalat kita. Sudahkah khusyu’ kita merambah ke kedua ranah tersebut? Atau masih terpenjara dalam dinding masjid dan sajadah saja?

Keselarasan antara khusyu’ intrinsik dan ekstrinsik inilah yang akan membuat shalat kita benar-benar mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Ia menjadi penyejuk hati dan penerang jalan hidup.

Suharyo, Pemerhati masalah sepele.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *