TROBOS.CO | SURABAYA – Produksi pangan Jawa Timur tumbuh positif sepanjang 2025 dengan capaian produksi padi +3,8% (year-on-year), melampaui pertumbuhan nasional yang sebesar +3,2%. Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani, yang pendapatannya rata-rata hanya naik 4,5%.
Fakta ini menjadi titik kritis dalam kajian akhir tahun Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, yang memberikan penilaian “Prestasi Sedang” terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bidang ketahanan pangan, pertanian, dan kesejahteraan petani.
“Ini adalah paradoks klasik lumbung pangan. Jawa Timur secara konsisten menjadi penyangga utama nasional, tetapi nilai tambah ekonomi di tingkat petani sebagai produsen hulu masih lemah,” tegas Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur, dalam pemaparan laporan “Kaleidoskop Kinerja Jatim 2025” yang diterima TROBOS, Selasa (30/12/2025).
Pilar Produksi Kuat, Stabilitas Harga Terkendali
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian yang dikompilasi ICMI Jatim menunjukkan fondasi ketahanan pangan yang solid:
-
Produksi Padi: Jatim tetap berada di peringkat teratas nasional, berkontribusi signifikan terhadap stok beras Indonesia.
-
Stabilitas Harga: Inflasi pangan di Jatim relatif terkendali berkat kerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan operasi pasar, sebagaimana diakui dalam laporan ekonomi regional Bank Indonesia.
-
Indeks Ketahanan Pangan: Skor Jatim mencapai 82,5, lebih tinggi dari indeks nasional (80.0), menunjukkan stabilitas moderat dan stok yang aman.
Tabel: Ringkasan Indikator Kinerja Pertanian Jatim 2025
| Indikator | Capaian Jawa Timur (2025) | Perbandingan Nasional | Sumber Data |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan Produksi Padi (YoY) | +3.8% | +3.2% | BPS Jatim & BPS RI |
| Produktivitas Hortikultura | +2.9% | +2.5% | Kementan & BPS |
| Pendapatan Rata-Rata Petani (YoY) | +4.5% | +4.0% | BPS Jatim & BPS RI |
| Indeks Ketahanan Pangan | 82.5 (Stabil) | 80.0 | Analisis FAO & BI |
| Nilai Tukar Petani (NTP) | 100 – 105 | ±100 | BPS |
Paradoks Kesejahteraan: Produksi Naik, Kesejahteraan Stagnan
Di balik capaian makro, kajian ini mengungkap masalah struktural. Nilai Tukar Petani (NTP) Jatim yang berkisar 100-105 hanya sedikit di atas batas aman (100), menunjukkan daya beli dan kesejahteraan petani yang belum mengalami lonjakan berarti.
“Petani ‘lulus batas aman’, tetapi belum sejahtera. Biaya produksi seperti pupuk dan tenaga kerja terus naik, sementara mereka sebagian besar masih terjebak sebagai produsen bahan mentah dengan rantai nilai yang panjang dan timpang,” papar Ulul.
Diagnosis Masalah: Rantai Hilir yang Lemah
ICMI Jatim mendiagnosis empat akar masalah yang menghambat kesejahteraan:
-
Minim Hilirisasi: Petani hanya menguasai hulu (produksi), kehilangan nilai tambah dari pengolahan, kemasan, dan pemasaran.
-
Regenerasi Mandek: Usia petani semakin menua dengan minat generasi muda yang rendah terhadap sektor pertanian.
-
Akses Pasar Terbatas: Kelembagaan petani (seperti koperasi) belum kuat menjadi agregator yang memiliki daya tawar.
-
Tekanan Iklim & Lahan: Perubahan cuaca ekstrem dan alih fungsi lahan terus menjadi ancaman produktivitas.
Rekomendasi Strategis: Dari Lumbung Pangan ke Lumbung Nilai Tambah
Berdasarkan temuan tersebut, ICMI Jawa Timur memberikan empat rekomendasi strategis untuk transformasi sektor pertanian Jatim:
-
Percepatan Hilirisasi: Pemerintah perlu mendorong pembangunan unit pengolahan hasil pertanian (UPHP) berbasis koperasi dan investasi industri pangan olahan lokal.
-
Modernisasi Kelembagaan Petani: Memperkuat koperasi petani menjadi badan usaha modern yang mampu mengakses modal, teknologi, dan pasar secara langsung.
-
Dukungan Petani Muda & Agroteknologi: Membuat program menarik bagi generasi muda dengan insentif dan dukungan penerapan teknologi pertanian presisi (precision farming).
-
Integrasi Kebijakan Holistik: Kebijakan pangan harus terintegrasi dengan kebijakan sosial dan ekonomi, sehingga petani tidak hanya menjadi instrumen stabilisasi harga, tetapi subjek pembangunan yang sejahtera.
“Tugas kita ke depan adalah menggeser paradigma dari sekadar mengejar surplus produksi menuju membangun pertanian bernilai tambah tinggi dan berkeadilan. Dengan cara ini, Jawa Timur tidak hanya akan tetap menjadi lumbung pangan nasional, tetapi juga menjadi lumbung kesejahteraan bagi para petaninya,” pungkas Ulul Albab menutup kajian.
Ulul Albab (Ketua ICMI Jawa Timur)









