Hidup Sebagai Pengabdian: Perspektif Epistemologi Islam

TROBOS.CO | Dalam Islam, hidup bukanlah realitas netral yang bisa dimaknai sesuka hati. Hidup adalah objek pengetahuan sekaligus medan pengabdian. Cara seseorang menjalani hidup sangat ditentukan oleh bagaimana ia memahami hakikat hidup itu sendiri.

Di sinilah peran epistemologi Islam: menentukan sumber kebenaran, arah pemahaman, dan tujuan akhir dari pengabdian manusia. Wahyu menjadi kompas utama, bukan sekadar pilihan di antara banyak sudut pandang.

banner 1142x1600

Al-Qur’an telah meletakkan dasar epistemologis ini dengan tegas. Allah Ta‘ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa hidup memiliki makna objektif yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Hidup adalah ujian. Penilaiannya tidak pada seberapa sibuk atau banyak aktivitas, melainkan pada kualitas amal yang lahir dari orientasi yang lurus.

Hidup dalam Kerangka Nilai Ilahiah

Karena hidup adalah bagian dari sistem nilai ilahiah, Islam menuntut penerimaan yang utuh dan menyeluruh. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Islam, dalam hal ini, bukan sekadar kumpulan ritual. Ia adalah kerangka pengetahuan hidup yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Memahami hidup secara Islam berarti menjadikan wahyu sebagai sumber utama penentu arah pengabdian, bukan sekadar pelengkap kehidupan duniawi.

Para ulama sejak dulu telah menaruh perhatian besar pada persoalan orientasi hidup ini. Imam Al-Ghazali, misalnya, menjelaskan bahwa kerusakan manusia sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi oleh kesalahan tujuan.

Dunia dikejar sebagai tujuan akhir, sementara akhirat hanya menjadi wacana di lisan. Al-Qur’an dengan jelas mengingatkan bahaya kekeliruan epistemologis semacam ini:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Meluruskan Posisi Dunia dalam Peta Hidup

Ayat di atas tidak serta-merta menafikan keberadaan dunia. Ia meluruskannya secara konseptual. Dunia adalah sarana pengabdian, bukan sumber makna terakhir.

Ketika dunia dijadikan tujuan, manusia akan kehilangan ketenangan dan arah—meskipun secara lahiriah tampak sukses gemilang. Kesenangan dunia bersifat menipu karena sifatnya sementara dan sering mengalihkan dari tujuan sejati.

Dalam tradisi tasawuf Sunni, keseimbangan antara pengetahuan, usaha, dan pengabdian diajarkan secara mendalam. Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Ḥikam menyatakan:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
“Istirahatkan dirimu dari terlalu mengatur urusanmu, karena apa yang telah diurus oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak perlu engkau sibukkan dirimu mengurusnya sendiri.”

Pengetahuan yang Berujung pada Ketundukan

Ungkapan hikmah ini mengajarkan bahwa pengetahuan tentang hidup harus berujung pada ketundukan dan ketenangan tauhid. Ikhtiar tetap dilakukan sebagai bentuk pengabdian, tetapi hasil tidak dijadikan sandaran utama.

Hati diarahkan kepada Allah sebagai sumber penentuan akhir. Prinsip ini ditegaskan pula oleh Al-Qur’an:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Di sini terlihat keterpaduan yang harmonis antara pengetahuan, kehendak, dan pengabdian. Pengetahuan yang benar melahirkan tekad yang lurus. Tekad itu diwujudkan dalam amal nyata. Dan amal itu disempurnakan dengan tawakal—berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Dengan demikian, dalam perspektif epistemologi Islam, hidup adalah pengetahuan yang menuntun pada pengabdian. Ia bukan sekadar perjalanan eksistensial belaka, melainkan amanah yang harus dijalani dengan kesadaran tujuan dan kesiapan pertanggungjawaban.

Hidup yang bernilai bukan hidup yang paling sibuk atau paling panjang. Tetapi hidup yang paling lurus orientasinya, paling ikhlas pengabdiannya, dan paling dekat penghambaannya di hadapan Allah Ta‘ala.

Muhid, Pesantren Elkisi, Mojokerto.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *