TROBOS.CO – Dalam mengikuti perkembangan pasca robohnya gedung Pondok Pesantren Al-Khoziny, muncul satu hal menarik yang menyentuh nurani: beberapa orang tua santri korban justru mengembalikan dana tali asih yang sebelumnya diberikan pihak pesantren. Bahkan, sebagian mengembalikan pula biaya transportasi pengiriman jenazah, baik antar-daerah di Jawa maupun ke luar pulau.
Pesan yang lahir dari sikap itu begitu dalam. Hubungan emosional antara wali santri dan pesantren ternyata bukan hubungan transaksional, melainkan relasi batin yang diliputi nilai spiritual. Ada kehadiran Allah dalam ikatan tersebut.
“Kami tidak mau menerima uang pesantren. Kami hanya minta doa dan barokah. Biarlah dana ini kembali untuk pondok. Kami akan terus mendoakan Kiai agar kuat melanjutkan amanah memimpin pesantren,” ujar seorang wali santri.
Penolakan itu bukan karena tidak membutuhkan, melainkan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan keikhlasan. Mereka meyakini, meskipun anak-anak mereka wafat dalam peristiwa tersebut, para kiai di Al-Khoziny telah menjalankan amanah pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Perspektif Duniawi dan Spiritual
Namun, tidak semua pihak memandang peristiwa ini dengan cara yang sama. Ada sebagian keluarga yang melayangkan protes, namun kebanyakan bukan orang tua kandung, melainkan saudara seperti kakak atau paman yang lebih muda.
Mereka cenderung menilai tragedi ini dari kacamata duniawi—mencari pihak yang harus bertanggung jawab, sementara di media sosial, sebagian netizen justru sibuk “menggoreng” isu tersebut.
Banyak wartawan pun menulis peristiwa ini dengan pendekatan normatif dan teknis, sebagaimana liputan bencana pada umumnya. Padahal, mereka kerap luput memahami kedalaman spiritual hubungan antara wali santri, kiai, dan pesantren—hubungan yang tidak bisa disamakan dengan sistem pendidikan umum.
Pesantren memiliki dimensi batiniah yang tidak dapat dijangkau semata dengan logika rasional. Karena itu, peristiwa ini perlu dibaca dari lebih dari satu sudut pandang.
Tiga Pelajaran Penting dari Musibah Al-Khoziny
Pertama, kita tidak dapat melihat peristiwa ini hanya dari satu perspektif. Memang ada aspek teknis—santri ikut kerja bakti, gotong royong, bahkan membantu pengecoran bangunan. Tradisi ini telah menjadi bagian dari pendidikan karakter di pesantren selama puluhan tahun. Bukan hukuman, tetapi bentuk kebersamaan dan tanggung jawab sosial.
Bahkan, Menteri PUPR Dody Hanggodo yang meninjau lokasi menyatakan, “Dari pesantren untuk pesantren, dari santri untuk santri.”
Ia menegaskan pentingnya pembenahan regulasi bangunan ke depan, tanpa melupakan konteks nilai di balik tradisi pesantren. Menurut Dody, hanya sekitar 50 pesantren di Indonesia yang memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)—izin yang sebelumnya dikenal sebagai IMB sebelum Undang-Undang Cipta Kerja diberlakukan.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kehadiran negara sangat diperlukan untuk memastikan keselamatan dan kelayakan bangunan pendidikan keagamaan.
Kedua, perlu disadari adanya hubungan batin antara wali santri dan pesantren. Bersyukur, masyarakat luas tidak banyak menghujat para kiai atau ustaz. Hal ini menandakan adanya kesadaran bahwa hubungan di dunia pesantren tidak bisa diukur dengan logika modern semata. Ada cara pandang spiritual yang menempatkan kesabaran, tawakal, dan keberkahan di atas logika rasionalitas.
Ketiga, tragedi Al-Khoziny harus menjadi pelajaran besar bagi negara. Pemerintah mesti lebih serius memperhatikan keselamatan dan kenyamanan jutaan santri di ribuan pesantren di seluruh Indonesia.
Selama ini, sekolah negeri modern mendapat dukungan fasilitas yang jauh lebih memadai, sementara banyak pesantren bertahan dengan bangunan seadanya. Padahal, pesantren adalah pilar moral bangsa, yang membentuk generasi berakhlak, beradab, dan berilmu.
Menata Kembali Hubungan Negara dan Pesantren
Musibah Al-Khoziny seharusnya menjadi momentum untuk menata ulang relasi negara dan pesantren. Bukan sekadar saling menyalahkan, tetapi mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang. Negara harus hadir, masyarakat harus memahami, dan pesantren perlu terus berbenah.
“Mari kita jadikan musibah ini sebagai pelajaran. Jika kelak terjadi peristiwa serupa, kita tak lagi sibuk mencari kambing hitam, tetapi mencari titik temu demi kebaikan bersama,” tulis Yusron Aminulloh.
Yusron Aminulloh – Wartawan Senior & Penulis Buku



