Analisis ICMI Jatim: Arah Pembangunan Jawa Timur 2025 Tepat, Namun Keberlanjutan Masih Rapuh

TROBOS.CO | SURABAYA – Jawa Timur mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5% sepanjang 2024-2025, sedikit di atas rata-rata nasional, dengan ketahanan sosial yang terus membaik. Namun, tekanan terhadap daya dukung lingkungan dan kesenjangan mutu layanan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah yang serius.

Demikian inti kajian komprehensif Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur dalam laporan akhir tahunnya, “Membaca Arah Pembangunan Jawa Timur 2025: Antara Pertumbuhan, Ketahanan Sosial, dan Keberlanjutan”, yang dirilis sebagai Seri-10 dari Kaleidoskop Kinerja Jatim 2025.

banner 1280x716

“Pembangunan Jawa Timur saat ini berada di persimpangan. Ekonomi relatif kuat, ketahanan sosial cukup tangguh, tetapi pilar keberlanjutan masih rapuh. Ini adalah peta jalan yang harus menjadi perhatian serius memasuki 2026,” papar Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur, dalam konferensi pers virtual, Rabu (31/12/2025).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikompilasi ICMI Jatim menunjukkan ketahanan struktur ekonomi provinsi. Tiga sektor utama—industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian—tetap menjadi penyangga utama, melindungi daerah dari gejolak ekonomi global.

Namun, kajian ini mengingatkan bahwa pertumbuhan harus dinilai dari kualitasnya. “Proporsi tenaga kerja di sektor informal masih besar. Target ke depan harus memastikan pertumbuhan menciptakan pekerjaan layak dan produktif, bukan hanya mengejar angka agregat,” tegas Ulul.

Di sektor sosial, Jawa Timur menghadapi paradoks khas daerah besar:

  • Pendidikan: Angka Partisipasi Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah meningkat, namun distribusi kualitas guru dan fasilitas belum merata.

  • Kesehatan: Cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) luas dan angka harapan hidup membaik, tetapi distribusi tenaga kesehatan dan fasilitas di wilayah Tapal Kuda, Madura, dan perdesaan masih tertinggal.

  • Kemiskinan: Persentase penduduk miskin dalam tren menurun, namun kerentanan tetap tinggi pada kelompok pekerja informal dan petani kecil.

“Ketahanan sosial kita belum sepenuhnya kokoh menghadapi guncangan. Perlindungan harus lebih inklusif dan responsif,” tambahnya.

Dua sektor ini dinilai menunjukkan konsistensi kebijakan yang baik:

  1. Infrastruktur: Pembangunan jalan, transportasi logistik, dan kawasan industri terus berjalan sesuai data Kementerian PUPR. Tantangan utama adalah menghubungkan pusat pertumbuhan dengan daerah pinggiran.

  2. Ketahanan Pangan: Jawa Timur tetap menjadi lumbung pangan nasional dengan produksi padi dan komoditas strategis yang stabil. Isu krusial kini beralih ke kesejahteraan petani, regenerasi SDM, dan adaptasi iklim.

Kajian ini menekankan bahwa keberlanjutan adalah titik terlemah. Laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan peningkatan tekanan dari alih fungsi lahan, pencemaran, dan risiko bencana hidrometeorologi.

“Stabilitas pasokan energi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Jawa Timur perlu lompatan besar dalam energi terbarukan dan ekonomi hijau,” tegas Ulul.

ICMI Jatim menyimpulkan bahwa arah pembangunan Jawa Timur 2025 secara umum tepat, dengan fondasi ekonomi dan sosial yang makin kuat. Namun, laporan ini adalah pengingat untuk tidak berpuas diri.

“Tantangan 2026 adalah membangun kepercayaan publik bahwa pertumbuhan bekerja untuk banyak orang, perlindungan sosial nyata, dan lingkungan tidak dikorbankan. Selamat atas capaian 2025, Pemprov Jatim. Saatnya memastikan arah laju ini benar, adil, dan berkelanjutan,” tutup Ulul Albab.

Oleh: Ulul Albab (Ketua ICMI Jawa Timur)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *