Akhlakul Karimah di Tengah Zaman yang Gemar Salah Tafsir

TROBOS.CO“Berbuat baik itu adab, jangan baik sedikit dikira naksir. Ramah itu sikap, jangan ramah sedikit dikira suka.”

Ungkapan sederhana ini menyimpan kritik sosial yang dalam. Ia menggambarkan kegelisahan zaman ketika kebaikan tak lagi diterima sebagai kebaikan, melainkan dicurigai sebagai bentuk kepentingan terselubung. Di tengah masyarakat yang semakin sensitif dan gemar menafsir, akhlakul karimah justru kerap kehilangan tempatnya.

banner 1280x716

Dalam ajaran Islam, berbuat baik bukanlah ekspresi emosi atau strategi pribadi. Ia adalah adab—buah dari nilai dan kesadaran batin. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa akhlak adalah kondisi jiwa yang melahirkan perbuatan secara spontan, tanpa pertimbangan panjang. Artinya, seseorang yang berakhlak baik akan berbuat baik karena itulah hakikat dirinya, bukan karena ada maksud lain di baliknya.

Keramahan pun serupa. Ia adalah sikap sosial, bukan kode perasaan. Rasulullah SAW dikenal sebagai manusia yang paling ramah, bahkan kepada orang yang menyakitinya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Sedekah adalah amal kebajikan, bukan isyarat ketertarikan. Maka, menafsirkan keramahan secara berlebihan adalah kekeliruan dalam membaca nilai.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan sosial. Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan akhlak Rasulullah tidak terbatas oleh konteks atau sasaran, melainkan menjadi prinsip hidup yang konsisten. Akhlak tidak bergantung pada siapa yang dihadapi, tetapi pada nilai yang diyakini.

Sayangnya, realitas sosial hari ini menunjukkan gejala sebaliknya. Senyum menjadi tanda tanya, sapaan bahan prasangka, dan bantuan kecil diseret ke ranah asumsi. Dalam kondisi seperti ini, kebaikan kerap kelelahan. Orang mulai menahan diri untuk bersikap ramah, bukan karena ingin sombong, tetapi karena takut disalahpahami.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengingatkan, “Akhlak yang baik adalah pondasi kepercayaan, dan hilangnya kepercayaan adalah awal dari kerusakan sosial.” Ketika masyarakat gagal membedakan antara adab dan kepentingan, yang runtuh bukan hanya hubungan personal, tetapi juga iklim sosial yang sehat.

Islam mengajarkan agar manusia tidak mudah berprasangka. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat ini menjadi fondasi etika sosial: menilai niat orang lain tanpa dasar yang jelas bukan hanya keliru, tetapi juga merusak keharmonisan hidup bersama.

Imam Nawawi menegaskan bahwa husnuzan kepada sesama Muslim adalah kewajiban moral, selama tidak ada bukti nyata untuk sebaliknya. Tanpa husnuzan, akhlakul karimah akan selalu terancam—bukan karena ia salah, tetapi karena hidup di tengah tafsir yang keliru.

Lebih tajam lagi, Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad menyebut bahwa salah satu tanda rusaknya hati adalah kegemaran menakwilkan perbuatan orang lain dengan niat yang tidak pernah mereka maksudkan. Kita terlalu sibuk membaca maksud, namun abai menangkap nilai. Terlalu cepat curiga, namun lambat memahami.

Padahal, masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang memberi ruang aman bagi kebaikan. Akhlakul karimah tidak membutuhkan pembelaan atau klarifikasi. Ia cukup dilakukan dan diterima apa adanya. Ketika kebaikan harus terus menjelaskan dirinya, sejatinya ada yang bermasalah dalam cara kita memaknai sesama manusia.

Sudah saatnya kita mengembalikan kebaikan pada fitrahnya. Biarkan adab tetap menjadi adab, dan sikap tetap menjadi sikap. Jangan memaksa keramahan memikul beban tafsir yang tidak ia niatkan. Sebab dalam pandangan Islam dan para ulama, akhlakul karimah bukan hanya memperindah pribadi, tetapi juga menjaga kewarasan moral masyarakat.

Di tengah zaman yang gemar salah paham, mungkin akhlak mulia tidak sedang berkurang—yang berkurang adalah kemampuan kita untuk memahaminya dengan jernih.

Fytrya A. S
Menulis untuk menjaga ingatan dan memulihkan kewarasan.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *