Analisis Banjir Menurut Al-Qur’an & Sains: Ketika Siklus Hidrologi Alami Rusak oleh Tangan Manusia

TROBOS.CO | Banjir yang melanda berbagai daerah, dengan korban dan kerugian materiil yang besar, sering kali hanya dilihat sebagai “bencana alam” belaka. Namun, menurut Ir. Widodo Djaelani, alumni Universitas Merdeka Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang, fenomena ini perlu dikaji lebih dalam dengan menyelaraskan perspektif Al-Qur’an dan sains modern, khususnya ilmu hidrologi.

“Banjir bukan sekadar peristiwa alam murni. Ada mekanisme keseimbangan (sunnatullah) yang telah Allah tetapkan, dan kerusakannya sering kali berawal dari campur tangan manusia,” ujar Widodo dalam kajiannya.

banner 1280x716

Konsep Alam Ideal dalam Al-Qur’an: Gunung, Tanaman, dan Siklus Air

Widodo merujuk tiga ayat Al-Qur’an yang menggambarkan tatanan alam sempurna:

  1. QS Qaf: 7 tentang bumi yang dihamparkan, gunung yang kokoh, dan tanaman yang indah.

  2. QS Al-Mursalat: 27 tentang gunung-gunung tinggi dan air tawar yang disediakan.

  3. QS An-Naba’: 7 tentang gunung sebagai pasak penstabil.

“Ayat-ayat ini menggambarkan ekosistem integral: gunung sebagai pasak penstabil bumi dan pengatur aliran air, ditutupi hutan yang berfungsi sebagai daerah resapan, dilengkapi mata air yang mengalirkan air tawar. Ini adalah laboratorium raksasa siklus hidrologi yang bekerja dalam keseimbangan,” paparnya.

Mekanisme Siklus Hidrologi Sebagai Sunnatullah

Widodo menjelaskan, siklus hidrologi yang merupakan hukum alam (sunnatullah) bekerja dalam tiga tahap utama:

  1. Kondensasi & Hujan Orografis: Uap air laut naik, mendingin di sekitar pegunungan, dan turun sebagai hujan di lereng gunung.

  2. Infiltrasi & Penyimpanan Air Tanah: Air hujan meresap (infiltrasi) ke dalam tanah, disimpan dalam aquifer (lapisan pembawa air), lalu keluar secara perlahan sebagai mata air dan aliran sungai yang stabil.

  3. Stabilisasi oleh Gunung & Vegetasi: Gunung menstabilkan tanah dan mengatur run-off (aliran permukaan). Sedangkan akar tanaman berfungsi sebagai spons raksasa yang menahan air, mencegah banjir besar dan erosi ekstrem.

Penyebab Kerusakan: Isyarat Al-Qur’an dalam QS Ar-Rum: 41

Lantas, mengapa sistem yang sempurna ini bisa gagal dan menyebabkan banjir? Widodo menunjuk QS Ar-Rum: 41“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…”

“Ayat ini adalah isyarat ilmiah yang sangat kuat. Kerusakan lingkungan yang mengganggu siklus hidrologi—seperti penggundulan hutan, alih fungsi lahan resapan, dan pembangunan semrawut—adalah ‘perbuatan tangan manusia’ yang disebutkan dalam ayat itu,” tegasnya.

Kesimpulan: Banjir adalah Gejala, Kerusakan Ekosistem adalah Akar Masalah

Kajian ini menyimpulkan bahwa banjir besar yang melanda pemukiman adalah gejala akhir dari rantai kerusakan yang dimulai dari terganggunya keseimbangan alam.

“Kita tidak bisa terus menyalahkan ‘curah hujan tinggi’ sebagai satu-satunya penyebab. Akar masalahnya adalah krisis lingkungan karena kita mengabaikan sunnatullah yang telah digariskan, baik dalam ayat kauniyah (alam semesta) maupun ayat qauliyah (Al-Qur’an),” pungkas Widodo Djaelani.

Solusi jangka panjang, menurutnya, harus dimulai dari restorasi ekosistem—memulihkan fungsi hutan, menjaga daerah resapan, dan membangun dengan prinsip kelestarian—sebagai bentuk ketaatan kita kepada hukum Allah sekaligus penyelamatan kehidupan.

Ir. Widodo Djaelani (Pemerhati Sains & Spiritualitas, Jember)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *