Pesantren Persis Bangil: Dari Sejarah Panjang Lahirkan Tokoh Besar Islam Indonesia

TROBOS.CO – BANGIL | Suasana Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) Putri Bangil tampak ramai. Saat itu, pondok tengah kedatangan tamu dari dalam dan luar negeri, termasuk dari Malaysia. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Silaturahmi dan Safari Ilmi, Ta’aruf, serta Khazanah Karya Ulama Melayu yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Persis Putri Bangil.

Para tamu berasal dari Jawatan Kuasa Fatwa Negeri Perlis, dipimpin oleh Dr. Datuk Mohammad Asri bin Zainul Abidin, Mufti Negeri Perlis. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa hormat dan kekagumannya terhadap kiprah Pesantren Persis Bangil.

banner 1280x716
Tamu dari Malaysia dan Lumajang bersama di ponpes persis Bangil (foto : Shodiq Syarief/ TROBOS.CO)

“Kami kagum terhadap Pondok Pesantren Persis Bangil. Banyak alumninya yang menjadi tokoh besar,” ujar Prof. Dato’ Dr. Datuk Mohammad Asri bin Zainul Abidin. Para tamu disambut langsung oleh Mudir Pondok Persis Bangil, Ustadz Moh. Hefzhi bin Ghozie Abdul Qodir, Lc — yang merupakan cicit pendiri Persis, A. Hassan — di Aula A. Hassan, Jalan Bendo Sulung Pogar, Bangil.

Turut hadir Ketua Yayasan Ustadz Imam Muzakir, serta pengurus Persis Jawa Timur, Ustadz Zaytun Rasymin. Sementara tamu lokal datang dari Lumajang, Banyuwangi, Jember, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Pamekasan, dan sejumlah daerah lain. Mereka mewakili pesantren cabang Persis dan juga Dewan Dakwah Islamiyah kabupaten/kota.

Sejarah Panjang Persis Bangil

Pondok Pesantren Persis didirikan pada 4 April 1936 di Bandung oleh Ustadz Ahmad Hassan, seorang ulama besar sekaligus tokoh pembaharu pemikiran Islam di Indonesia. Empat tahun kemudian, pada tahun 1940, pesantren ini dipindahkan ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, bersama 25 orang santri. Memasuki era 1950-an, pesantren mulai berkembang pesat. Asrama putra dan putri dibangun, dan koleksi buku perpustakaan semakin bertambah.

Pada tahun 1968, sistem pendidikan diubah dari sistem angkatan menjadi sistem klasikal untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Setelah Ustadz Ahmad Hassan wafat pada tahun 1958, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya, Ustadz Abdul Qadir Hassan.

Pesantren Persis Bangil kemudian dikenal luas karena melahirkan kader-kader dakwah dan intelektual Islam yang berperan dalam pembangunan bangsa. Pada dekade 1960–1980-an, jumlah santri meningkat pesat: sekitar 400 santri putra dan 700 santri putri.

Kini, Pesantren Persis Bangil menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia yang berilmu, berakhlak, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Islam.

Pasang Surut Perjalanan

Menurut Mudir Pondok Persis Bangil, Ustadz Moh. Hefzhi bin Ghozie Abdul Qodir, Lc, pesantren telah mengalami pasang surut dalam perjalanan panjangnya. “Pernah ada masa di mana santri putri mencapai 1.000 orang,” ujarnya. “Namun sekarang jumlahnya menurun menjadi sekitar 250 santri.”

Meski demikian, pihak pesantren tidak risau. Penurunan jumlah santri di Bangil justru menjadi tanda bahwa Pesantren Cabang Persis kini tumbuh di berbagai daerah. “Santri tidak harus ke Bangil lagi untuk mondok. Mereka bisa belajar di pesantren cabang yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya,” pungkasnya. (*)

Kontributor: Suharyo AP / Shodiq Syarief

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *