TROBOS.CO | Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut bukan sekadar gunung biasa. Ia adalah entitas yang hidup dalam keseharian warga di sekitarnya. Dari kejauhan, pesonanya memukau, namun dari dekat, ia menyimpan “sisi gelap” berupa jurang dalam dan hutan belantara. Bicara tentang Semeru, selalu ada dua tema yang bertolak belakang: ancaman dan harapan.
Aktivitas vulkanik Semeru adalah ritual yang tak terpisahkan dari kehidupan warga. “Batuk-batuk” kecilnya justru dianggap sebagai pertanda baik, bahwa sang gunung sedang bernapas normal. Justru ketika Semeru terlihat “tenang” tanpa aktivitas, warga menjadi waspada. Ketenangan itu seringkali menjadi pertanda awal akan kemarahan besar yang bisa meminta korban jiwa.
Ancaman nyatanya beragam dan mematikan:
- Awan Panas Guguran (APG): Aliran gas dan material vulkanik panas yang bergerak cepat, menghanguskan apa saja di jalurnya. Seperti yang terjadi pekan ini di Dusun Kamar A, Kecamatan Pronojiwo, yang meluluhlantakkan ratusan rumah, sekolah, dan tempat ibadah.
- Lahar Dingin: Aliran lumpur dan batuan yang menghancurkan daerah sepanjang aliran sungai, terutama pasca hujan lebat di lereng gunung.
- Lontaran Batu Pijar dan Abu Vulkanik: Yang dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur dan gangguan pernapasan.
Namun, di balik ancamannya yang mencekam, Semeru menyimpan harapan besar bagi warga Lumajang dan Malang. Pasca bencana, selalu ada berkah yang mengikuti.
-
Tanah yang Makin Subur
Material vulkanik yang dikeluarkan Semeru mengandung mineral yang menyuburkan tanah. Bagi para petani, ini adalah anugerah yang membuat lahan pertanian mereka terus menghasilkan. Inilah alasan utama mengapa banyak warga enggan meninggalkan tanah kelahirannya, meski pemerintah menawarkan program transmigrasi. Seperti di Desa Sumber Mujur, banyak warga setengah hati pindah ke huntap karena kesuburan tanah di lereng Semeru tak tergantikan. -
Pasir Berkualitas yang Menjadi Rezeki
Bagi para penambang pasir, erupsi Semeru adalah berkah tersendiri. Gunung ini secara rutin “mengirim” material pasir dan batu berkualitas tinggi ke sepanjang aliran sungai. Pasir Lumajang terkenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, sehingga permintaannya selalu tinggi. Ratusan truk setiap harinya mengangkut “rezeki dari Semeru” ini ke berbagai daerah, menjadi tulang punggung perekonomian bagi banyak keluarga.
Gunung Semeru adalah simbol dualitas alam yang sempurna. Ia adalah sang pemberi kehidupan melalui tanah yang subur dan rezeki pasir, sekaligus sang pencabut nyawa melalui amukannya. Warga sekitar memahami betul resiko ini. Mereka belajar untuk hidup dalam harmoni yang penuh kewaspadaan, menerima kedua sisi Semeru sebagai takdir dan anugerah yang tak terpisahkan.
Di balik setiap ancamannya, selalu ada harapan yang tumbuh, bagai pucuk-pucuk hijau yang merekah di atas tanah vulkanik yang gersang.
Oleh: Suharyo, pemerhati masalah sepele









