TROBOS.CO | LUMAJANG – Komunitas adalah tentang perjalanan. Tentang proses jatuh bangun, tentang pencarian makna, dan tentang tangan-tangan yang saling menggenggam agar tak ada yang tertinggal.
Itulah yang terus dihidupkan oleh Bikersmu Chapter Lumajang, sebuah komunitas motor yang menjadikan dakwah sebagai ruh geraknya. Mereka tak sekadar melaju di atas aspal, tetapi juga menapaki jalan panjang perubahan, membuktikan bahwa komunitas yang hanya merasa “mapan” bisa saja mati kapan-kapan—namun komunitas yang terus bergerak dalam kebaikan akan selalu menemukan kehidupan.
Hari Sabtu, 21 Februari 2026, suasana di Masjid Umar Bin Khattab Senduro terasa berbeda. Masjid yang menjadi markas dakwah Bikersmu itu dipenuhi hangatnya persaudaraan dalam acara buka puasa bersama.
Yang istimewa, Bikersmu mengundang komunitas Mapan (Mati Kapan-Kapan) Cangkru’an, komunitas pecinta scooter yang banyak tersebar di Lumajang. Pertemuan dua komunitas ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum pertautan hati dan perjalanan hijrah yang menggetarkan.
Didiet, Koordinator Mapan, berkisah dengan suara bergetar. Komunitas yang berdiri di akhir 2024 dan berpusat di Pasirian itu lahir dari kegelisahan.
Ia mengakui bahwa dulu, kumpul-kumpul hanya menjadi pelarian tanpa arah. Masalah demi masalah justru bertambah karena keputusan yang diambil tanpa tuntunan. Di usia yang tak lagi muda, mereka merasa semakin jauh dari agama. Sholat menjadi asing. Masjid terasa menakutkan.
Hingga satu per satu teman seperjalanan pergi meninggalkan dunia tanpa bekal yang cukup. Sebuah kesadaran yang menampar, sekaligus menyadarkan.
Hidayah itu datang ketika mereka dipertemukan dengan para pengurus Bikersmu. Dari obrolan sederhana, dari sentuhan persaudaraan tanpa menghakimi, perlahan arah hidup mulai berubah.
Cangkru’an yang dulu tanpa tujuan, kini menjadi majelis ngaji setiap Rabu malam. Dari hanya beberapa orang, kini telah tumbuh menjadi sekitar 40 anggota yang rutin belajar agama bersama. Sebuah transformasi yang tidak instan, tetapi nyata.
Setahap demi setahap, mereka kembali mengenal sajadah, kembali akrab dengan masjid, kembali merasakan damai dalam sujud.
Acara buka puasa bersama itu diawali dengan kajian penuh makna oleh Ustadz Ahmad Said Alkatiri, lalu ditutup dengan sholat tarawih berjamaah. Malam itu bukan hanya tentang berbagi hidangan, tetapi berbagi harapan.
Bikersmu Lumajang menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar ceramah, melainkan merangkul, memanusiakan, dan membersamai.
“Terima kasih telah memanusiakan kami,” ungkap Didiet dengan mata berkaca-kaca, memohon agar terus dibimbing agar tetap berada di jalan yang benar.
Bikersmu Lumajang terus membuktikan motonya, “Melaju Bersama Dakwah”. Dari touring religi, bakti sosial, bersih-bersih masjid, hingga pendampingan komunitas-komunitas yang ingin berubah, semua dilakukan dengan satu niat: menghadirkan manfaat.
Mereka percaya, komunitas bukan tentang seberapa besar nama, tetapi seberapa besar dampaknya. Dan di Lumajang ini, di bawah kaki Semeru, Bikersmu sedang menuliskan kisah bahwa kebersamaan yang diarahkan kepada kebaikan akan selalu menemukan jalannya menuju cahaya.
Nugroho Dwi Atmoko / Trobos.co








