Puasa Dalam Banyak Makna: Dari Hibernasi Hingga Spiritualitas

TROBOS.CO | Ternyata petunjuk untuk berpuasa tidak hanya dimaknai dalam satu makna, namun juga bisa berlaku dalam banyak makna.

1. Puasa dalam Dunia Binatang: Hibernasi dan Estivasi

Dalam dunia binatang, puasa dikenal sebagai proses hibernasi pada musim dingin dan estivasi pada musim panas saat tak ada air. Ini adalah adaptasi bertahan hidup terhadap perubahan musim dan kekurangan makanan. Contohnya pada kelelawar, beruang, tupai tanah, buaya tertentu, dan katak.

2. Puasa dalam Dunia Medis

Dalam dunia medis, puasa diartikan sebagai tidak makan dan minum pada waktu tertentu untuk kepentingan pemeriksaan laboratorium, tindakan operasi, dan terapi medis.

3. Puasa dalam Spiritual dan Moral

a. Dasar Kewajiban
Puasa diwajibkan untuk orang beriman agar bertakwa, bukan sekadar lapar dan haus. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 183 dan hadis tentang banyak orang berpuasa tetapi hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

b. Tingkatan Orang Berpuasa
Dari Al-Qur’an dan hadis, kita mengenal tingkatan orang berpuasa:

  • Puasa orang awam: mampu menahan makan dan minum, namun masih bergosip, berbohong, marah, dengki, iri.
  • Puasa orang khusus: selain menahan makan minum, juga mampu menahan perbuatan maksiat seperti tidak bergosip, berbohong, hasad, dengki, iri, dan tidak munafik.
  • Puasa orang khusus bil khusus: orang yang menahan makan minum, menahan maksiat penglihatan, pendengaran, ucapan, serta hati. Yang diingat hanya kepada Allah, hatinya bersih dari kekotoran.

Bahwa sesungguhnya kesucian batin adalah kunci keberuntungan. Dari puasa yang bisa mengendalikan diri, seseorang menjadi bertakwa, lalu hatinya bersih atau qalbun salim yang bisa mendapatkan keberuntungan (QS. Asy-Syam: 9-10). Adapun “keberuntungan” yang dimaksud adalah hati bersih yang dapat menerima petunjuk, serta hidup dalam ketenangan iman, dan “bertemu” dengan Tuhan.

4. Puasa Kaitannya dengan “Serakahnomics”

Puasa melatih pengendalian diri untuk tidak serakah, bisa berempati kepada kaum miskin yang sengsara, dan suka berbagi dari hartanya untuk orang yang membutuhkan. Suka menolong, membantu, bergotong royong mengentas kemiskinan. Bukan jiwa yang serakah ingin mendominasi hanya untuk pribadi.

5. Puasa Kaitannya dengan Kemaslahatan Moral (Kebaikan Bersama)

Puasa merupakan sarana pembentukan takwa, yaitu moral:

  • Jujur
  • Amanah, dapat dipercaya
  • Berani, cerdas, serta pintar

6. Kemaslahatan Spiritual

Puasa membersihkan dari sifat serakah, sombong, dengki, iri, dan caci maki.

7. Kemaslahatan Kesehatan

Puasa menuntun menuju pola hidup sehat dan pola makan teratur.

8. Kemaslahatan Sosial

Puasa mendorong sikap suka bergotong royong, bersedekah, menjalin ukhuwah persaudaraan, persahabatan, dan toleran terhadap adanya perbedaan. Sehingga terbentuk keteraturan sosial sebagai modal dasar membangun bangsa.

Penutup: Puasa dan Cita-Cita Bangsa

Sejak awal, para pendiri bangsa menginginkan terbentuknya masyarakat Indonesia yang berjiwa Pancasila: berperikemanusiaan yang adil dan beradab serta berkeadilan sosial. Dan untuk mencapainya, di antaranya dengan melaksanakan puasa dengan baik dan benar sesuai ajaran agama sebagai dasar berpijak—bukan hanya slogan, tetapi dalam praktik nyata kehidupan.

Ir. Widodo Djaelani, alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *