TROBOS.CO | Pasca Ramadan, hendaknya melanjutkan kebiasaan indah mengamalkan ajaran agama. Jangan sampai selesai Ramadan, kebaikan yang pernah dilakukan terputus, tidak berlanjut.
Pesan itu disampaikan Penasehat PDM Kabupaten Lumajang, H. Suharyo AP, SH , kepada sekitar 1.500 jamaah salat Idul Fitri di lapangan kompleks lembaga pendidikan —dari TK sampai SMK Muhammadiyah plus LKSA — PCM Rogojampi, Banyuwangi.
Dalam kesempatan tersebut, H. Suharyo menjelaskan kebiasaan Nabi yang perlu kita tiru oleh umatnya.
Tujuh Kebiasaan Nabi yang Harus Dilanjutkan
Pertama, Nabi punya kebiasaan selalu menjaga salat lail-nya. Mari kita jaga sikap istiqomah shalat lail (tahajud). Orang yang istiqomah salat lail derajatnya dimuliakan oleh Allah.
Kedua, Nabi punya kebiasaan tadabur Quran atau merenungi kandungan Al-Qur’an, menderas Al-Qur’an. Beliau berpesan warga Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan rutin di rumah masing-masing secara bergantian suami, istri, dan anak.
“Rumah yang ada bacaan Al-Qur’an betapa indahnya. Malaikat rahmah pun betah berada di rumah itu,” jelasnya.
Ketiga, Nabi selalu menjaga salat jamaahnya. Kita perlu meniru kedisiplinan Nabi dalam menjaga salat jamaah.
Keempat, Nabi punya kebiasaan menjaga salat duha. Salat duha untuk njojoh pintu langit supaya Allah grojokan rezeki dari langit. Dan rezeki yang dimaksud bukan sekadar uang. Bisa berupa keselamatan, kedamaian, kesuksesan, kesejahteraan, perasaan tenang, bahagia, sehat lahir dan batin.
Kelima, setiap pagi Nabi bertanya: “Hari ini saya akan berbuat baik apa kepada orang lain?” Kita perlu melakukan hal yang sama. Kalau bisanya tenaga, ya dengan tenaga. Kalau bisanya dengan finansial, ya dengan finansial. Kalau mampu dengan pikiran, ya dengan pikiran. Singkat kata, terus menebar manfaat kepada sesama.
Keenam, Nabi selalu menjaga wudhunya. Kalau batal, wudhu lagi; batal, wudhu lagi. Kalau berat untuk menirunya, pesan-pesan wudhu harus diwujudkan.
Pesan wudhu: membasuh telapak tangan artinya telapak tangan harus dijaga kesuciannya, tidak main kasar kepada anak. Kata Nabi: “Keluarga yang baik, keluarga yang tidak ada kekerasan ucapan dan tindakan fisik.” Secara khusus Nabi mengingatkan, suami yang baik adalah suami yang santun kepada anak dan istrinya.
Berkumur artinya menjaga kesucian ucapan. Mensucikan wajah artinya menjaga pandangan agar tidak menghina dan meremehkan orang lain. Pandangannya memuliakan sesama. Tangan disucikan artinya perbuatan kita harus selalu terjaga.
“Mengapa orang beribadah kok masih korupsi?” tanyanya, lalu dijawab sendiri: “Karena koruptor itu tidak menjaga pesan-pesan wudhunya,” ujar Suharyo mantap.
Ketujuh, Nabi selalu menjaga hatinya selalu ingat kepada Allah. Ini harus kita tiru dan terus belajar membiasakan diri dengan cara belajar penuh kesungguhan.
Info Organisasi: PCM Rogojampi yang Produktif
PCM Rogojampi merupakan cabang yang sangat produktif dan unggul di Kabupaten Banyuwangi. Sebagai contoh, SMK Muhammadiyah setempat mempunyai 1.200 murid.
Begitu pula amal usaha yang lain. Misal Rumah Sakit Muhammadiyah perkembangannya bagus. Jumlah karyawannya 175 orang.
“Kami terus membangun walau tidak punya uang,” kata Ketua PCM Rogojampi, Ustad Heri Wahyudi, merendah.
PCM Rogojampi memiliki 11 PRM, Amal Usaha Muhammadiyah: punya TK, SD Kreatif 19, SMP Muhammadiyah 11, SMK Muhammadiyah 6, dan RSU PKU Muhammadiyah. Ada lembaga: Lazismu dan LKSA Husnul Khotimah.
LKSA Husnul Khotimah: Membina dengan Baik
Ketua LKSA Husnul Khotimah Rogojampi, Ayang Suharsono, menjelaskan bahwa di antara binaannya juga ada siswa SMK Muhammadiyah Rogojampi 6. Kepada mereka dikenakan biaya tapi tidak penuh. Mereka diharapkan dapat mengikuti pembinaan di LKS tersebut dengan baik.
“Alhamdulillah binaan kami bisa mengikuti apa yang sudah digariskan oleh pengurus,” ujar Ayang Suharsono.
Sinergi Tiga Ormas: Halalbihalal Bergilir
Bagaimana sinergi dengan ormas lain? Ada hal menarik, ormas di Rogojampi selalu menjaga kerukunan antar mereka. Setiap Syawal selalu ada halal bihalal tiga ormas, yaitu Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan LDII.
Menurut Ustad Heri, kegiatan halal bihalal dilakukan secara bergantian sesama pengurus, pindah dari satu ormas ke ormas lain. Tahun ini giliran LDII sebagai tuan rumah.
“Karena terbiasa mengadakan halal bihalal, hubungan kami dengan tiga ormas berjalan baik,” ujarnya.
Said Romadhon / Trobos.co









