Pelepasan Dai PDR 1447 H: eLKISI dan Dewan Dakwah Jatim Kukuhkan Kaderisasi Berbasis Solus

TROBOS.CO | MOJOKERTO – Pelepasan Dai Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) 1447 H/2026 M di Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI Mojokerto bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah peristiwa kaderisasi, konsolidasi, sekaligus deklarasi bahwa dakwah harus hadir sebagai solusi nyata di tengah masyarakat.

Ratusan dai muda dilepas untuk bertugas di berbagai wilayah strategis, mulai dari Jawa Timur, Kalimantan Barat, Lombok, Nusa Tenggara Timur (Atambua dan Kupang), hingga mancanegara seperti Singapura dan Timor Leste.

banner 1142x1600

Khusus wilayah NTT dan Timor Leste, sebagian dai telah diberangkatkan lebih awal menggunakan kapal laut mengingat akses geografis yang membutuhkan persiapan logistik lebih panjang.

Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari Siregar, S.H., M.M. , Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat, Ustadz Dr. Misbahul Anam, serta ulama internasional Syech Dr. Magdi Ali Abdul Magied.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Syahab Royyan. Lantunan tartilnya menghadirkan suasana sakral sekaligus menegaskan bahwa gerakan dakwah harus berangkat dari wahyu, bukan sekadar opini atau retorika.

Momentum ini menjadi simbol bahwa dakwah Ramadhan bukan hanya agenda pengisian mimbar, melainkan perpanjangan risalah yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.

Dalam tausiyahnya, Pengasuh PPIC eLKISI Mojokerto, KH. Dr. Fathur Rohman, mengutip firman Allah SWT:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang paling baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Beliau menegaskan bahwa dakwah adalah kewajiban syar’i yang melekat pada setiap Muslim.

“Dakwah itu bukan pilihan, tetapi kewajiban. Ada dakwah bil-lisān, bil-qalam, dan bil-ḥāl. Ketiganya harus berjalan sinergis,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi keluarga dan pesantren dalam membentuk kader dai. “Pesantren membina secara sistematis, tetapi rumah adalah madrasah pertama. Orang tua harus terlibat dalam proses kaderisasi ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengungkapkan capaian strategis lembaga: eLKISI kini telah menjadi cabang resmi dari Al-Azhar University Kairo. Selain itu, para alumninya telah diterima di berbagai kampus internasional di Libya dan Maroko, menunjukkan bahwa orientasi pendidikan eLKISI tidak hanya lokal, tetapi juga global.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat, Ustadz Dr. Misbahul Anam, menyampaikan pesan yang lebih kontekstual dan aplikatif.

“Saya bangga kepada anak-anak yang siap menjadi dai muda. Kalian bukan hanya khotib atau penceramah. Dai itu harus mampu membaca realitas,” ujarnya.

Beliau mengibaratkan dai sebagai tabib bagi masyarakat. “Dai itu laksana tabib yang mendiagnosa penyakit umat lalu memberikan terapi yang tepat. Jangan hanya normatif, tetapi harus solutif,” tegasnya.

Menurutnya, dai harus hadir sebagai mantri di tengah masyarakat — mendampingi, membimbing, serta memberikan problem solving terhadap persoalan akhlak, keluarga, hingga konflik sosial.

Program kaderisasi Dewan Dakwah berjalan berjenjang. Untuk lingkup Jawa Timur melalui ADI, sementara skala nasional berada di bawah naungan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir (STID Moh. Natsir) yang dikelola Dewan Dakwah Pusat.

Mewakili wali santri, Heru Arroyanu menyampaikan kebanggaan atas kepercayaan yang diberikan kepada putra-putri mereka.

“Kami titip putra-putri kami. Semoga mereka diberi kekuatan dan mampu memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ungkapnya.

Pelepasan ini menegaskan bahwa dakwah adalah gerakan kolektif: pesantren membina, keluarga mendukung, dan lembaga dakwah menggerakkan. Ramadhan 1447 H menjadi momentum akselerasi, tetapi kaderisasi dai adalah proyek jangka panjang.

Dari Mojokerto, para dai muda diberangkatkan bukan hanya untuk mengisi mimbar, melainkan untuk menghadirkan Islam sebagai solusi — ilmiah dalam argumentasi, santun dalam pendekatan, dan nyata dalam kontribusi sosial.

Muhid / trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *