Kekuatan Menjadi Islam di Tanah Timor Leste: Antara Stigma dan Harapan

TROBOS.CO | TIMOR LESTE – Ba’da Isya, sekitar pukul 21.00 waktu setempat, suasana Masjid Al-Hamud di Timor Leste masih hidup. Masjid yang dibangun oleh Hamud Alkatiri—keturunan Arab yang menetap di Timor Leste—itu menjadi saksi perbincangan panjang hingga pukul 00.30 dini hari.

Malam itu bukan sekadar obrolan biasa. Ia menjadi ruang curhat, ruang evaluasi, dan ruang harapan bagi umat Islam di tanah minoritas.

Kami berbincang bersama Ustadz Daud, Mas Yudi, Mas Joni, dan Mas Anto. Topiknya satu: bagaimana bertahan sebagai Muslim di Timor Leste.

Ustadz Daud: Dari Katolik ke Jalan Dakwah

Ustadz Daud adalah seorang muallaf yang telah memeluk Islam selama 55 tahun. Dahulu beliau Katolik, kemudian belajar di Indonesia, tepatnya di LIPIA Jakarta. Namun karena merasa tidak sejalan dengan visi dan pemikirannya, beliau memilih jalannya sendiri.

Kini beliau fokus merintis pembinaan muallaf di Timor Leste—sebuah kebutuhan yang sangat mendesak.

Beliau mengaku sangat terkesan dengan KH. Fathur Rohman dalam acara training tiga hari di Timor Leste. Kurang dari satu setengah jam, nasihat itu menggerakkan hatinya untuk lebih serius menapaki jalan dakwah. Beliau bahkan berencana mengunjungi eLKISI untuk melihat langsung bagaimana lembaga itu membina kader-kader da’i.

Mas Yudi: Islam yang Rawan Tanpa Pembinaan

Mas Yudi lahir sebagai Muslim. Namun ia mengakui, sebelum 2019, ia belum benar-benar memahami agama. Perubahan itu terjadi ketika para santri da’i datang dan menyentuh hatinya.

Namun ia jujur mengatakan:

“Menjadi Islam di Timor Leste itu rawan.”

Secara hukum, toleransi dijamin. Tetapi secara sosial, ejekan masih sering terjadi. Muslim kerap dilabeli “teroris”“pengkhianat”, dan stigma lainnya.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian muallaf kembali murtad karena tidak ada pembinaan yang intensif. Kini Ustadz Daud mulai merintis pembinaan itu agar tidak ada lagi yang kehilangan arah.

Mas Joni: Luka Seorang Muallaf

Mas Joni memeluk Islam tujuh tahun lalu. Namun perjalanannya tidak mudah. Ia pernah trauma karena bantuan yang diberikan kepadanya justru “ditagih” kembali dalam bentuk sindiran dan tekanan. Dalam kondisi emosi, ia pernah mengucap ingin keluar dari Islam—meski hanya di lisan, bukan di hati.

Malam itu, ia meminta penjelasan. Kami berdiskusi panjang. Tentang makna keikhlasan, tentang Islam yang bukan sekadar bantuan materi, tentang ujian yang justru menguatkan iman.

Di akhir perbincangan, wajahnya lebih tenang.

Ia juga memiliki harapan: kelak anaknya ingin dipondokkan. Kami sampaikan, eLKISI terbuka bagi anak-anak dari Timor Leste.

Mas Anto: Dakwah dengan Akhlak

Mas Anto, perantau asal Jawa yang telah empat tahun bekerja di Timor Leste, juga merasakan ejekan sebagai Muslim. Namun ia memilih menjawabnya dengan akhlak.

“Kalau ketemu orang lalu tidak dikenalkan Islam, nanti di akhirat ditanya kenapa orang itu tidak kenal Islam,” ujarnya.

Baginya, dakwah bukan mimbar. Dakwah adalah sikap.

Ketika Mereka Ingin Kami Tinggal Lebih Lama

Di akhir perbincangan, kami menyampaikan bahwa visa kami hanya berlaku satu bulan. Tiba-tiba, warga Licuisa menawarkan bantuan untuk memperpanjang visa satu bulan lagi agar kami tetap membersamai mereka.

Kami terdiam.

Itu bukan sekadar tawaran administratif. Itu tanda bahwa mereka merasa ditemani.

Dengan rendah hati kami menjawab, “Mohon maaf, setelah hari raya kami harus kembali sekolah.”

Ada rasa haru. Ada rasa berat meninggalkan mereka.

Bertahan Itu Kekuatan

Menjadi Muslim di Timor Leste bukan perkara identitas semata. Ia tentang ketahanan mentalketeguhan iman, dan kebutuhan akan pembinaan berkelanjutan.

Di sana, satu da’i bisa mengubah arah hidup seseorang. Satu nasihat bisa meneguhkan muallaf yang hampir goyah. Satu kunjungan bisa membuat mereka merasa tidak sendirian.

Malam itu kami belajar satu hal besar:

Islam di tanah minoritas bertahan bukan karena jumlah.
Tetapi karena orang-orang yang memilih untuk tetap setia.

Semoga Allah menguatkan mereka.
Dan semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari perjuangan panjang dakwah di Bumi Loro Sae.

M. Abiyyu Dias Nabil & Rois Suryo Nugroho, Santri Kelas 12 SMA eLKISI.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *