TROBOS.CO | SURABAYA – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur merilis hasil kajian komprehensif terhadap kinerja ekonomi Pemerintah Provinsi Jawa Timur sepanjang tahun 2025. Kajian yang didasarkan pada data resmi terverifikasi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, dan sumber resmi pemerintah ini mengungkap prestasi yang patut diapresiasi, namun juga menyisakan catatan kritis terutama dalam hal penanggulangan kemiskinan dan inklusivitas pertumbuhan.
Secara umum, kinerja makro ekonomi Jawa Timur menunjukkan ketahanan yang solid. Berikut adalah beberapa capaian utama:
-
Pertumbuhan Ekonomi: 5,1%, sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional (4,9%).
-
Inflasi: Terjaga rendah pada 1,06% (year-on-year), jauh di bawah inflasi nasional (2,6%).
-
Pengangguran Terbuka: 3,61%, lebih baik dari angka nasional (4,82%).
Dengan skor 3,65 dari 5,00, kinerja makroekonomi Jatim dikategorikan ICMI sebagai “Prestasi Tinggi”, terutama didorong oleh capaian pada tiga indikator di atas.
Di balik angka makro yang positif, kajian ini mencatat tantangan struktural yang masih perlu menjadi fokus perhatian serius.
-
Tingkat Kemiskinan: Masih relatif tinggi di angka 9,5%, lebih tinggi dari rata-rata nasional (8,5%).
-
Kualitas Penyerapan Tenaga Kerja: Meski pengangguran turun, sebagian besar penyerapan terjadi di sektor informal, yang menimbulkan isu terkait perlindungan sosial dan kualitas pekerjaan.
-
Struktur Ekonomi: Masih bertumpu pada sektor tradisional yang solid—industri pengolahan (±31%), perdagangan (±18%), dan pertanian (±11%). Hal ini menunjukkan daya tahan ekonomi yang kuat, tetapi juga mengisyaratkan bahwa transformasi menuju ekonomi berbasis inovasi dan jasa modern perlu dipercepat.
Merespon temuan tersebut, Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab, menyoroti tiga agenda strategis yang harus menjadi prioritas ke depan:
-
Pertumbuhan yang Lebih Inklusif: Pertumbuhan ekonomi harus lebih merata, dengan mempercepat pembangunan di wilayah Tapal Kuda dan pedesaan yang masih tertinggal.
-
Investasi yang Menciptakan Lapangan Kerja Formal: Investasi tidak sekadar mengejar angka PMDN, tetapi harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas dan memberikan perlindungan sosial.
-
Integrasi Pertanian-Industri yang Kuat: Integrasi antara sektor pertanian dan industri perlu diperkuat untuk membangun ketahanan ekonomi yang tangguh menghadapi guncangan eksternal.
“Dari sisi stabilitas makro, performa Jawa Timur sangat baik. Namun, kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang serius, apalagi jika dilihat dari kualitas pertumbuhan yang belum sepenuhnya inklusif,” tegas Ulul Albab dalam rilisnya.
ICMI Jawa Timur memberikan apresiasi terhadap capaian kinerja ekonomi Jawa Timur 2025. Namun, Ulul Albab menegaskan bahwa prestasi ini tidak boleh menimbulkan euforia, melainkan harus menjadi modal awal untuk menyelesaikan tantangan yang lebih kompleks, terutama terkait pemerataan dan kualitas hidup masyarakat.
Kajian ini merupakan bagian pertama dari seri analisis kinerja Pemprov Jatim 2025 oleh ICMI, sebagai bentuk transparansi dan partisipasi publik dalam memberikan masukan kritis-ilmiah untuk peningkatan kualitas pembangunan daerah.
Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur









