TROBOS.CO | LUMAJANG – Menghadapi tantangan perubahan dan disrupsi di berbagai bidang, penguatan ideologi dan kapasitas kader menjadi kebutuhan mendesak. Pimpinan Daerah (PD) Aisyiyah Lumajang menyelenggarakan Baitul Arqam bagi para pimpinan Pimpinan Cabang (PC) Aisyiyah se-Kabupaten Lumajang pada 6-7 Desember 2025 di Perguruan Muhammadiyah.
Kegiatan yang mengusung tema “Upaya Peneguhan Ideologi Kader Aisyiyah di Era Disrupsi” ini diikuti oleh 75 peserta yang merupakan pimpinan harian dari tiap PC. Acara ini bertujuan meneguhkan landasan ideologis gerakan Aisyiyah Berkemajuan sekaligus membekali kader dengan wawasan keislaman dan kepemimpinan yang relevan dengan konteks kekinian.
Baitul Arqam kali ini merupakan penyelenggaraan yang kedua. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar untuk para guru Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA) pada September 2025 di Desa Wotgalih, Yosowilangun. Agenda ini tidak hanya berfokus pada penguatan pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan, tetapi juga pada pengembangan jiwa kepemimpinan yang mampu merespons dinamika zaman.
Selama dua hari penuh, para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan semangat dan antusiasme tinggi. Komitmen mereka terlihat dari kesediaan untuk menginap dan meninggalkan urusan keluarga sementara, guna menyelami materi-materi penguatan ideologis dan kapasitas kepemimpinan.
Baitul Arqam bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia merupakan strategi pengkaderan strategis untuk memastikan para penggerak di tingkat cabang memiliki pemahaman yang utuh dan mendalam tentang visi, misi, dan nilai-nilai Aisyiyah. Dengan fondasi ideologi yang kuat, diharapkan setiap kader dapat mentransformasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan ke dalam aksi nyata di masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Penguatan ini menjadi sangat krusial di era disrupsi, di mana perubahan terjadi sangat cepat dan kompleks. Kader Aisyiyah diharapkan tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga pemberi solusi dan penjaga nilai di tengah masyarakat.
Endang Nurhayati









