TROBOS.CO | LUMAJANG – Megahnya Pasar Agropolitan Senduro di Lumajang memunculkan harapan baru sekaligus kekhawatiran mendalam. Pantauan lapangan TROBOS pada Bagian-2 kajian ini mengungkap sejumlah persoalan, dari transparansi proyek, boros energi, hingga kekhawatiran beban operasional yang bakal dibebankan penuh kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang.
Saat tim TROBOS mendatangi lokasi, satu hal yang mencolok adalah ketiadaan plakat informasi proyek yang biasanya wajib ada di area pembangunan sebagai bentuk transparansi publik. “Dulu sewaktu proses pengerjaan ada terpampang, mungkin sudah dicopot,” ujar Eko Hadi Wiyono, tokoh masyarakat setempat.
Bangunan utama pasar memang memukau dengan desain arsitektur tradisional yang estetik. Namun, dinding kaca masif yang mendominasi gedung menimbulkan masalah. Solusi pendingin ruangan (AC) yang dipilih menciptakan beban finansial dan ekologis jangka panjang.
“Secara akumulatif, dalam kondisi minim pemakaian sebelum diresmikan saja, pemakaian listrik bulan-bulan kemarin sudah berkisar Rp 12 juta per bulan,” ungkap Cak Anwar, Pejabat Mantri Pasar setempat, kepada TROBOS.
Angka ini dinilai sangat jomlang dibandingkan potensi retribusi pedagang yang belum aktif. Padahal, Senduro dikenal dengan udara sejuk dan oksigen melimpah dari lereng Semeru. “Mengapa harus mubazir disia-siakan?” tulis tim dalam laporannya.
Pertanyaan kritis muncul menyusul rencana penyerahan pengelolaan dari Kementerian PUPR ke Pemkab Lumajang. Apakah semua konsekuensi operasional—biaya listrik, stimulasi pedagang, pemeliharaan—nantinya akan menjadi beban penuh Pemkab setelah gegap gempita peresmian usai?
“Apakah kendala atau blunder ini yang menyebabkan rencana pembukaan—yang konon diagendakan berbarengan momentum Harjalu—akhirnya diundur untuk waktu yang belum pasti?” tulis analis TROBOS.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Proyek mercusuar kerap terjebak dalam siklus: pesta peresmian megah, lalu terbengkalai karena ketidaksiapan anggaran dan strategi keberlanjutan di tingkat daerah.
Laporan ini ditutup dengan nada refleksif yang getir. “Ah, sebagai orang awam, penulis ini tahu apa? Diam sajalah, yang penting taat bayar pajak, kholash!”
Pernyataan sinis ini menyiratkan kepasrahan sekaligus kritik terhadap pola pembangunan yang sering kali lebih mementingkan kemegahan fisik dan seremoni, ketimbang kesiapan fungsi, efisiensi operasional, dan keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.
Keberadaan Pasar Agropolitan Senduro kini diuji: akankah ia menjadi mesin penggerak ekonomi seperti harapan, atau sekadar monumen megah yang menyedot anggaran dan menyisakan pertanyaan?
(Bagian 2 selesai. Artikel pertama telah dimuat pada 12 November 2025)
Tim Investigasi TROBOS.CO Lumajang











