TROBOS.CO | “Alhamdulillah…” syukurku dalam hati.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Hari berganti hari, dan bulan pun sudah masuk tanggal muda. Saat yang mendebarkan bagi kami, terutama buat Zorrow yang sedang menghadapi momentum penentuan: tetap lanjut bekerja di perusahaan Style Group ini atau harus hengkang angkat kaki berdua dengan istrinya.
Pagi itu cuaca cerah dengan udara yang segar setelah semalaman diguyur hujan. Kami datang di kantor hampir bersamaan. Zorrow seperti biasa mengendarai RX King-nya. Setiba di pos security, dikasih tahu Pak Wayan (petugas satpam) ada pesan dari boss Christian, supaya menghadap beliau jam 9 WITA.
Di dalam ruang workshop pada hari itu terasa lengang. Kami berempat menghadap kanvas masing-masing sambil memegang kuas menggores cat sekenanya. Di kepalaku yang ada waktu itu cuma lintasan-lintasan dzikir dan doa supaya segalanya berjalan dengan baik-baik saja, terutama terhadap kawan kita si Zorrow dan keluarga mudanya. Tak bisa kubayangkan seandainya boss benar-benar mengeluarkan mereka berdua.
Jam 8:55 WITA, Zorrow beranjak dari kursinya.
“Selamat berjuang blie…, semoga sukses!” kujabat erat tangannya, melepas langkahnya ke ruang manajer.
“Matur sukseme!” jawabnya penuh percaya diri.
Sambil melanjutkan pekerjaan, kami bertiga yang biasanya asyik menuangkan imajinasi masing-masing menarikan kuas di atas kanvas sembari bersenandung atau bersiul-siul kecil mengikuti alunan musik, pagi itu terasa hampa hambar. Suasana batin gundah oleh kesewenang-wenangan perusahaan terhadap kawan sekerja kami. Hal serupa bisa saja menimpa kami sewaktu-waktu dengan atau tanpa alasan penyebab yang relevan.
Sambil berbisik, sempat pula kami obrolkan bertiga keinginan untuk mencoba mengkomunikasikan kasus ini ke Disnaker setempat seandainya hasil keputusan nanti benar-benar terjadi PHK sepihak menimpa Zorrow dan istrinya.
Semampang angan hayalan kami berkelana ke mana-mana, dari jauh terdengar suara langkah sepatu cowboy khas milik Zorrow semakin mendekat. Disusul kemudian derit pintu ruang workshop terbuka perlahan yang kemudian ditutup lagi dengan cepat. Sambil agak tergesa, Zorrow berlari kecil menghampiriku dengan raut wajah gembira.
“Alhamdulillah..!” dia berseru.
“Akhirnya Christian mau terima argumentasiku, dan dia malah kagum mendengar penjelasanku tentang tanggung jawabku terhadap istri dan anakku yang harus kulindungi lebih dari sekadar pekerjaan, bahkan nyawaku sendiri!” cerita Zorrow dengan penuh antusias.
“Tapi dia berpesan agar aku lebih disiplin membagi konsentrasi antara keluarga dan pekerjaan,” paparnya.
“Masya Allah..! ternyata Christian juga bijaksana,” jawab Mas Pur sama Mahmud, kedua kawan sekerja kami hampir berbarengan.
Sekedar informasi tambahan, Mas Pur adalah pelukis paling senior di antara kami, sedangkan Mahmud adalah pelukis paling muda. Kami berempat awalnya tidak saling mengenal satu sama lain. Namun setelah beberapa hari hingga beberapa minggu saling berinteraksi, mungkin karena merasa senasib di perantauan dan saling membutuhkan, kami semakin merasa dekat seperti saudara satu sama lain.
Setelah peristiwa menegangkan berlalu, hari-hari berikutnya suasana kerja kami semakin kondusif. Hasil kerja, baik kuantitas maupun kualitas karya kami, pun makin meningkat. Boss juga semakin merasa senang dan bangga terhadap kami semua, dengan apresiasi berupa bonus insentif insidental untuk akumulasi setiap lima bingkai karya Lony Wing yang laku terjual.
Sampai suatu malam ketika saya sedang ambil masa cuti pulang menjenguk keluarga yang tinggal di Sedati, Sidoarjo. Menjelang tengah malam ketika sedang lelap tidur, terdengar sayup-sayup HP berdering berulang-ulang. Dengan sisa kantuk yang menggelayut di pelupuk mata, kubuka HP. Ternyata dari Zorrow.
Dengan suara agak berbisik dan nada panik, dia bercerita bahwa istrinya berkali-kali mimpi didatangi dua sosok makhluk bertubuh besar hitam dan menyeramkan. Mereka memaksa mengambil orok (janin) dalam kandungannya. Katanya sangat sakit sampai menjerit-jerit seperti benar-benar terjadi nyata. Sampai terbangun pun perutnya masih merasa sakit luar biasa.
Seketika itu saya teringat tentang Surat As-Shoffaat yang sering saya baca. Maka saya minta lewat telepon untuk diloudspeaker memperdengarkan bacaan QS 37 ayat 1-10 tersebut di telinga kanan Hening. Saya baca tiga kali dengan tartil, kemudian saya minta mereka untuk menirukan bacaan tersebut tiga kali berturut-turut. Saya pesankan juga agar mereka sekalian juga membaca sendiri semampunya setelah shalat fardhu.
Alhamdulillah, malam itupun berlalu dengan aman damai hingga subuh keesokan harinya.
Sampai malam ketiga, Zorrow kembali menelpon lagi. Dia cerita bahwa waktu itu Hening terbangun dari tidurnya karena mimpi didatangi dua ekor kucing hitam yang mengetuk pintu kamar mereka dengan keras. Setelah terbangun pun, suara ketok pintu kamar tersebut masih juga terdengar cukup keras.
Karena merasa curiga dan takut, Hening membangunkan Zorrow untuk melihat si pengetuk pintu malam-malam begini. Zorrow bergegas bangun sambil spontan tangannya mengambil Al-Qur’an di meja, mendekapnya di dada, kemudian menuju ke pintu.
Ketika pintu dibuka, ternyata di luar terdapat dua ekor kucing hitam besar-besar sedang berdiri dengan sorot mata tajam seolah mau menerkam. Zorrow sudah punya firasat buruk karena seringkali mendengar cerita tentang budaya mistik leak Bali yang suka mencuri orok bayi.
Maka sambil berteriak “Allahu Akbar!” , ditendangnya kucing-kucing tersebut dengan kaki kanan hingga keduanya terpental, terguling-guling, dan lari menghilang di kegelapan malam.
La haula wala quwwata illa billah!
Mendengar cerita tersebut, saya jadi terharu. Terbersit juga rasa bangga atas ‘prestasi keimanan’ kawan yang satu ini. Sehingga segera saya bangkit dari tempat tidur, ambil air wudhu, kemudian menggelar sajadah dan segera menyungkur sujud:
“Sajada wajhi lilladzi kholaqahu wasyaqqa sam’ahu wabashorohu bikhaulihi waquwatihi..!”
Penulis: Ezet Muttaqin
Tentang hasil karya lukis kami berempat – setelah saya coba browsing ternyata masih bisa diakses dijual online dengan nama samaran Lony Wing.







