TROBOS.CO | Pernahkah kita merasa gelisah? Bagaimana cara mengatasi? Tentu setiap orang punya cara yang berbeda-beda.
Yang jelas setiap orang pasti jiwanya pernah merasa tidak tenang. Hatinya gelisah. Dan jiwanya jauh dari damai.
Dalam kondisi seperti itu pasti merasa tidak nyaman. Mereka mencari solusi. Walau terkadang semakin dicari rasa tenang itu semakin jauh.
Sebagai orang beragama, caranya tidak susah. Al-Qur’an menyebutkan: perbanyak dzikir. Allah menggaransi orang yang banyak dzikir hatinya pasti damai.
Dzikir, menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, menyangkut dua hal yaitu “mengingat” dan “menyebut” nama Allah. Dengan mengingat dan menyebut nama Allah, hati menjadi tenang.
Tanyakan kepada orang yang hidupnya bergelimang maksiat dan jauh dari Allah. Mereka merasa tidak nyaman. Ada yang mengartikan dosa adalah sesuatu yang apabila dilakukan, hati menjadi tidak tenang. Semakin banyak maksiat, semakin galau dan gelisah.
Untuk mendapatkan obat dari jiwa yang gelisah, ada teori dari Ibnu Sina. Teori tersebut bernama “mental head”. Agar hati tidak gelisah, badan harus sehat.
Orang yang badannya sehat akan merasa damai. Sebaliknya, orang yang badan atau fisiknya sakit maka jiwanya juga terpengaruh. Tidak tenang.
Selain itu, dalam teori “mental head” disebutkan agar jiwa tidak gelisah, pikiran harus jernih. Dengan pikiran jernih, mampu membendung gangguan yang menyebabkan hati tidak tenang.
Dalam hal ini, Socrates menyebutkan ketika ada orang akan memberi informasi, saringlah dengan tiga hal:
- Apakah kabar yang akan disampaikan itu baik?
- Apakah kabar itu benar?
- Apakah kabar itu penting?
Kalau kabarnya tidak baik, untuk apa didengar? Sebaiknya tidak perlu disampaikan atau tolak saja informasi itu.
Begitu pula kalau kabar itu tidak benar, apa manfaatnya? Misalnya ghibah. Apakah isinya benar? Kalau tidak, hal itu buang-buang waktu dan energi.
Baru kita saring dengan pertanyaan: Apakah kabar yang disampaikan itu penting atau tidak bagi penerima? Kalau tidak penting, sebaiknya tidak perlu disampaikan.
Dunia ini dihuni oleh dua kelompok besar: manusia yang tenang jiwanya dan manusia yang gelisah hatinya. Pertanyaannya, kita masuk golongan mana dari keduanya?
Segera ambil posisi. Tentukan sikap yang tegas. Berpihaklah kepada jiwa yang tenang dan damai. Jauhkan dari rasa gelisah.
Suharyo, pemerhati masalah sepele.









