IQRA’: Peradaban Pintar yang Kehilangan Tuhan Ketika Ilmu Menjadi Berhala Baru

banner 2560316

TROBOS.CO | Kita sedang hidup dalam satu ilusi besar: merasa paling maju dalam sejarah manusia, padahal mungkin justru sedang tersesat paling jauh. Dunia modern membanggakan sains, teknologi, dan rasionalitas sebagai puncak peradaban. Tapi mari jujur—apa gunanya semua itu jika manusia tetap gelisah, kosong, dan kehilangan makna hidup?

Ini bukan sekadar krisis moral. Ini adalah krisis yang lebih dalam: krisis cara mengetahui, krisis epistemologi.

Dan akar masalahnya terang: ilmu telah dipisahkan dari Tuhan.

Sejak rasionalisme René Descartes, manusia mulai mengangkat akal sebagai otoritas mutlak. Seolah berpikir saja cukup untuk menentukan kebenaran.

Lalu empirisme John Locke dan David Hume mempersempit realitas hanya pada apa yang bisa diindra. Yang tak terlihat? Dianggap tidak penting. Yang metafisik? Dikesampingkan.

Hingga akhirnya positivisme Auguste Comte datang dengan satu kesimpulan dingin: hanya yang terukur yang layak disebut ilmu—Tuhan tidak termasuk di dalamnya.

Di titik itu, ilmu tidak lagi netral. Ia berubah menjadi ideologi. Bahkan lebih jauh: menjadi berhala baru.

Berhala Modern: Data, Angka, Algoritma

Kita menyembah data.
Kita mengagungkan angka.
Kita tunduk pada algoritma.

Tapi kita lupa bertanya: semua ini untuk apa?

  • Kita bisa memetakan galaksi, tapi tidak bisa memetakan arah hidup.

  • Kita bisa mengedit gen manusia, tapi tidak bisa memperbaiki jiwa manusia.

  • Kita bisa menciptakan kecerdasan buatan, tapi gagal menghadapi kebodohan batin kita sendiri.

Yang lebih ironis: umat Islam ikut larut dalam arus ini tanpa perlawanan epistemologis yang serius. Kita mengimpor cara berpikir Barat, tapi kehilangan akar tauhidnya. Kita bicara “ilmiah”, tapi tanpa sadar sudah menerima definisi ilmu yang telah mengusir Tuhan dari dalamnya.

Padahal, sejak awal Islam sudah meletakkan fondasi yang jauh lebih radikal dan membebaskan.

Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad bukan sekadar ajakan ibadah ritual, tapi deklarasi revolusi intelektual: “Iqra’!”

Dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, ini bukan hanya perintah membaca, tapi perintah membangun kesadaran utuh—bahwa pengetahuan harus berakar pada wahyu, diproses oleh akal, dan diverifikasi oleh realitas, semuanya dalam satu orientasi tauhid.

Iqra’ adalah anti-berhala epistemologis.

  • Ia membongkar kesombongan akal.

  • Ia menolak reduksi realitas hanya pada yang kasat mata.

  • Ia mengembalikan ilmu pada tujuan sejatinya: mengenal Tuhan dan menata kehidupan.

Tanpa itu, ilmu hanyalah alat. Dan alat di tangan manusia yang kehilangan arah bisa menjadi bencana.

Jadi mari berhenti merasa aman dengan label “modern” dan “ilmiah”. Karena bisa jadi, di balik semua itu, kita sedang hidup dalam satu bentuk kebodohan baru—kebodohan yang tampak cerdas.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: seberapa banyak yang kita tahu.

Tapi: apakah cara kita mengetahui masih benar… atau justru sudah menyimpang sejak awal?

Dan kalau berani lebih jujur lagi: jangan-jangan kita tidak kekurangan ilmu—kita hanya kehilangan “Iqra'”.

Cak Muhid Pesantren Elkisi Mojokerto Jawa Timur

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *