Guru TK Yosowilangun Diajak Merenungi Filosofi Sapu Lidi

banner 2560316

TROBOS.CO | LUMAJANG – Guru TK yang tergabung dalam Ikatan Guru TK (IGTKI) Kecamatan Yosowilangun diajak mengambil hikmah dan inspirasi dari sapu lidi. Sapu lidi bisa kuat dan dapat melaksanakan tugas dengan baik karena kompak.

“Bayangkan kalau hanya 2-3 lidi saja dipakai membersihkan sampah, tidak mungkin bisa melakukannya. Guru TK juga demikian, kalau kompak, seberat apapun tugas bisa dilaksanakan dengan baik,” jelas H. Suharyo AP, SH di hadapan sekitar 100 guru TK Kecamatan Yosowilangun dalam tausiyah halal bihalal, Rabu (8/4/2026).

Acara digelar di aula Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kalipepe, Yosowilangun. Tema halal bihalal: “Satu Rasa, Satu Kebersamaan, Harmoni di Hari Kemenangan.”

“Kebersamaan itu muncul kalau guru kompak,” tegas Suharyo mengingatkan. Sayangnya, manusia punya kecenderungan bersikap egois, katanya mantap.

Suharyo mengungkapkan ada survei di Amerika yang menunjukkan bahwa manusia itu cenderung egois. Hal itu dilakukan dengan mengamati orang bicara lewat telepon.

Dalam pembicaraan tersebut diketahui bahwa dari kata ganti orang yang digunakan, penyebutan kata “aku” mendominasi.

“Dari 1000 kata yang mewakili kata ganti orang dalam menelpon, menyebut kata ‘aku’ sebanyak 930 kali. Sedangkan kata ‘kami’ hanya 70 kali. Itu artinya orang lebih mementingkan diri sendiri ketimbang kebersamaan,” ujar Suharyo.

Tetapi sikap tersebut tidak berlaku dalam dunia pendidikan. Pada umumnya, guru memiliki sikap lebih mengutamakan hidup bersama daripada sikap egois.

“Mengapa hal itu terjadi? Karena guru merupakan teladan. Sekujur tubuhku, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengandung keteladanan,” ujar Suharyo tandas.

“Guru merupakan madrosatul ula (sekolah pertama) bagi pembentukan karakter anak. Guru tidak egois tetapi membangun kebersamaan,” tegasnya.

Hadir dalam acara tersebut Pengawas TK Ibu Salami Ekawahyu Ningsih dan Ketua IGTKI Yosowilangun, Bu Uun Ekawahyu Ningsih.

Dalam kesempatan tersebut, Suharyo menjelaskan ada 5 tipe guru yang harus dipahami. “Ini berlaku bagi guru di manapun,” jelasnya.

1. Guru Wajib – Guru yang wajib datang, mereka punya tanggung jawab, disiplin, menguasai bahan ajar, dan selalu ditunggu oleh siswa dan kolega. Kalau tidak datang, ditunggu karena tidak ada yang bisa menggantikan sebaik dia. Guru wajib selalu menginspirasi dan memotivasi.

2. Guru Sunnah – Kalau datang, orang lain senang; tidak datang, tidak apa-apa. Dia bisa melaksanakan tugas dengan baik, tetapi bukan yang terbaik.

3. Guru Makruh – Tipe guru kalau datang, orang lain sumpek; karena tidak datang, orang lain senang. Dia suka mengganggu kenyamanan suasana kerja dan selalu menghembuskan kabar tidak baik yang menyebabkan orang lain drop semangatnya.

4. Guru Mubah – Datang dan tidak datangnya tidak berpengaruh. Kehadirannya tidak diperhitungkan, absennya tidak mengganjilkan.

5. Guru Haram – Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi ada guru yang bertipe seperti ini. Kalau datang, mengganggu semangat teman kerja. Kalau absen, temannya di-WA dengan kalimat yang bisa membuat semangatnya jatuh dan kehilangan etos kerja.

Menutup tausiyah, Suharyo mengutip firman Allah yang menegaskan bahwa Allah akan menimpakan kehinaan kepada satu kaum di mana pun mereka berada.

“Mereka yang tidak terkena kehinaan adalah yang mampu menjalin hubungan baik secara vertikal dengan Allah dan hubungan baik secara horizontal kepada sesama manusia,” pungkasnya.

Tim Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *