Menyelamatkan Masa Depan Anak: Siapa Temannya dan Apa Bacaannya

banner 2560316

TROBOS.CO | Masa depan anak kita ditentukan oleh dua hal. Yaitu, siapa temannya, dan apa bacaannya.

Maka, Rasulullah mengingatkan, kalau akan menempati tempat baru carilah lingkungan yang baik. Sebab lingkungan itu penting bagi pembentukan karakter anak.

Realita bicara lain. Banyak keluhan orang tua, anaknya punya dunia tersendiri. Mereka tinggal di rumah tetapi temannya banyak di luar rumah. Bahkan di luar negeri yang karakter dan agamanya tidak jelas.

Dunia maya merebut jiwa anak. Mereka memiliki cara pandang sendiri tentang hidup ini. Anak sekarang punya rumah dalam rumah.

Sepulang dari sekolah atau kegiatan lain, langsung masuk kamar, terkadang dikunci rapat dari dalam. Si anak mengembara ke mana-mana melalui dunia maya. Dia berkomunikasi dengan sahabat yang dikenalnya tapi tidak pernah bertemu darat.

Hebatnya, teman maya itu memberikan solusi secara cepat. Setiap pertanyaan dijawab dengan luas dan luas. Anak punya sahabat, orang tua baru, sekaligus guru. Mereka mampu membentuk pikiran dan masa depan anak.

Hasil survei menyebutkan bahwa setiap hari, orang berada di depan HP-nya selama 7 jam di hadapan HP. Kepergaulan menjadi terkesan aneh. Mereka dekat tapi jauh. Atau menjadikan yang jauh menjadi dekat.

Orang tua menjadi tempat pelarian sementara, itupun kalau dibutuhkan. Lebih dari itu, anak tidak lagi ingin dekat apalagi bermanja-manja.

Dunia maya menjadi nyata. Ia jadi sahabat, sekaligus bacaan anak-anak. Dunia benar-benar telah kabur. Tidak jelas yang benar dan yang salah.

Dulu kebenaran itu berasal dari fakta. Sekarang, menurut Dahlan Iskan, kebenaran adalah hasil dari framing. Kebenaran benar-benar buatan manusia.

Ke depan, bisa jadi kebenaran agama, moral, dan etika kalah dari kebenaran hasil framing manusia.

Para mubaligh bisa ditinggal oleh masyarakat. Tidak lagi urgen. Buku-buku mulai dilupakan. Masyarakat dijajah pengaruh dunia maya seiring merbaknya HP yang semakin masif di mana-mana.

Anak merasa mendapat kenyamanan hidup berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari HP. Akhirnya anak tercerabut dari kebenaran yang diajarkan agama, guru, dan orang tuanya. Bahkan mereka dianggap kuno alias jadul, ditertawakan, dan ditinggalkan karena dianggap lemot.

Untuk mengatasi dampak lebih jauh, diperlukan langkah cepat dan tepat. Orang tua jangan kalah bersaing dengan gadget produk ilmu dan teknologi modern.

Rebutlah jiwa anak agar tidak dikuasai dunia maya. Ajarkan agama. Kenalkan moral dan etika agar kembali kepada jiwa manusia yang sejati, alias fitrah.

Biasakan anak membaca Al-Qur’an. Ini terapi jiwa paling efektif. Al-Qur’an memberi rasa damai sekaligus menjadi benteng moralitas.

Al-Qur’an memberi solusi agar tidak terasing dari nilai dan realitas hidup. Al-Qur’an menjadikan hidup terarah, damai, dan selamat.

Sehebat apapun tantangan dunia modern akan kalah dengan solusi spiritual. Larilah kepada Al-Qur’an. Gunakan agama sebagai pedoman. Dekatkan anak kepada Allah.

Dengan demikian kita lebih tenang menghadapi masa depan anak. Orang tua tidak perlu risau. Solusi yang ditawarkan Al-Qur’an datang dari Yang Maha Pencipta. Pemilik jiwa.

Suharyo AP, pemerhati masalah sepele.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *