Kita Semua Sedang Menunggu: Kesadaran Seorang Hamba di Hadapan Kepastian

banner 2560316

TROBOS.CO | Ada satu kenyataan yang sering tidak kita sadari: hidup sebenarnya adalah ruang penantian.

Sejak manusia dilahirkan ke dunia, ia sedang menunggu sesuatu. Ada yang menunggu keberhasilan, ada yang menunggu kekayaan, ada yang menunggu kebahagiaan, dan ada pula yang menunggu perubahan nasib.

Namun semua penantian itu memiliki satu kesamaan: tidak pasti.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi besok. Rencana bisa berubah, harapan bisa tertunda, bahkan sesuatu yang sudah disusun dengan sangat matang bisa tiba-tiba runtuh.

Al-Qur’an mengingatkan keterbatasan manusia itu dengan sangat jelas dalam Surah Luqman:

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya ilmu tentang hari Kiamat; Dia yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan ia kerjakan besok. Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34)

Ayat ini menyingkap satu fakta besar: manusia hidup dalam ketidaktahuan tentang masa depannya sendiri.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Kita tidak tahu rezeki apa yang akan datang.
Bahkan kita tidak tahu di bumi mana kita akan menghembuskan nafas terakhir.

Namun justru di balik semua ketidakpastian itu, ada satu kepastian yang tidak pernah meleset dari siapa pun: kematian.

Kesadaran ini dipertegas oleh Al-Qur’an dalam Surah Al-Mursalat, melalui sebuah kalimat yang berulang seperti dentuman peringatan:

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

“Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”

Kalimat ini diulang sebanyak sepuluh kali dalam surah tersebut.

Setiap kali Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya—tentang penciptaan manusia, kehancuran umat terdahulu, dan kedahsyatan hari kiamat—ayat ini kembali muncul.

Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengguncang kesadaran manusia:

Tanda-tanda sudah jelas. Bukti-bukti sudah terbentang.
Tetapi jika manusia tetap menutup mata dari kebenaran, maka celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Di tengah kesadaran tentang kematian itu, Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang identitasnya yang paling mendasar: seorang hamba.

Manusia bukan pemilik kehidupan ini.
Ia hanya diberi waktu sementara untuk menjalani amanah hidup.

Karena itu Al-Qur’an memberikan arahan yang sangat tegas dalam Surah Al-Hijr:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Dalam penjelasan para ulama tafsir, termasuk dalam Tafsir Ibn Kathir, kata “al-yaqīn” pada ayat ini dimaknai sebagai kematian.

Artinya sangat jelas:
Selama kehidupan masih berlangsung, manusia tetap berada dalam satu posisi—seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhannya.

Tidak ada masa berhenti dari ibadah.
Tidak ada masa pensiun dari penghambaan.

Selama nafas masih berhembus, manusia tetap berada dalam panggilan yang sama: beribadah kepada Allah.

Manusia boleh saja menunggu banyak hal dalam hidup.
Menunggu rezeki, menunggu keberhasilan, menunggu kebahagiaan.

Tetapi tanpa disadari, kehidupan ini sebenarnya sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih pasti: kematian.

Dan ketika kematian datang, seluruh penantian dunia tiba-tiba selesai.

Tidak ada lagi rencana yang bisa diperbaiki.
Tidak ada lagi waktu untuk kembali.

Yang tersisa hanyalah hasil dari kehidupan yang telah dijalani.

  • Harta tidak ikut masuk ke dalam kubur.
  • Jabatan tidak ikut menemani di alam barzakh.
  • Popularitas tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat.

Yang tersisa hanyalah:

  • iman
  • amal
  • dan jejak kebaikan yang pernah ditanam dalam kehidupan.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting dalam hidup bukanlah:

“Apa yang akan kita capai di dunia ini?”

Tetapi justru:

“Apa yang sudah kita siapkan ketika hidup ini selesai?”

Sebab pada akhirnya hidup bukan sekadar perjalanan panjang, melainkan masa persiapan untuk pulang.

Dan kematian bukan sekadar akhir kehidupan, tetapi awal dari kepastian yang sesungguhnya.

Lalu satu pertanyaan yang seharusnya mengguncang kesadaran kita: Jika hidup ini adalah penantian, sebenarnya kita sedang menunggu apa?

Cak Muhid, Pesantren eLKISI, Mojokerto, Jawa Timur.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *