TROBOS.CO | Di penghujung Ramadan, khususnya tanggal ganjil, ada malam kemuliaan atau “Lailatul Qadar”.
Apa lailatul qadar itu? Tanya Allah dalam Al-Qur’an yang dijawab sendiri: “Lailatul Qadar adalah satu malam yang kebaikannya – bagi yang mendapatkan – lebih baik dari seribu bulan.” Kalau dihitung, seribu bulan sama dengan 83 tahun.
Orang berpuasa punya motivasi ingin meraih Lailatul Qadar. Malam tanggal ganjil pun, mulai tanggal 15, 17, 19, dan seterusnya, terasa lebih “hidup”. Semarak dengan kegiatan berbagai ibadah: baca Al-Qur’an, salat sunnah, dzikir, dan sebagainya.
Bagi yang mendapatkan malam kemuliaan tersebut, hidupnya lebih terisi dan berkualitas.
Hamka menyebut istilah tersebut dengan kata “detik kemuliaan”. Jika mendapatkan detik kemuliaan, hidup seseorang berubah total, berubah 180 derajat dari sebelumnya.
Sebut nama Umar bin Khattab. Setelah detik kemuliaan turun di hatinya, hidup Umar berubah. Dari memusuhi nabi menjadi sahabat setia, pembela utama, sehingga disebut oleh nabi bahwa Umar calon penghuni surga.
Padahal kita tahu, Umar pernah membunuh anak perempuannya sendiri. Di zaman jahiliyah, orang yang punya anak perempuan bisa kena balak. Agar selamat, anak perempuannya dibunuh.
Umar juga pernah membuat roti serupa patung yang dijadikan sesembahan. Tetapi ketika Umar lapar, patung itu diiris lalu dimakan.
Detik kemuliaan mampu mengubah hidup Umar dari gelap menjadi terang. Dari kafir menjadi beriman. Dari durhaka menjadi taat.
Begitu pula yang dialami anak muda bernama Fudail bin Iyyad. Anak ini benar-benar luar biasa. Hari-harinya mandi maksiat. Judi, minum, bahkan berbuat tak senonoh terhadap wanita. Selain itu, dia perampok kejam yang disegani.
Suatu ketika, dia berteduh di sebuah gubuk di padang pasir. Tiba-tiba datang beberapa orang akan melintas di tempat tersebut. Karena malam, mereka istirahat di gubuk itu.
Mereka bercakap satu dengan yang lain. Di antara isi percakapannya tentang keamanan kawasan:
“Kita tunda besok saja, karena di kawasan ini rawan perampokan. Ada perampok muda yang sangat bengis. Dia tidak segan-segan membunuh orang. Anak muda tersebut bernama Fudail bin Iyyad,” kata mereka.
Fudail bin Iyyad yang juga ada di gubuk tersebut kaget namanya disebut. Betapa hinanya. Dia merasa malu. Perasaannya tidak enak. Hatinya gundah.
Yang menyebabkan dia harus mengakhiri kebiasaan buruknya karena tersindir oleh bacaan Al-Qur’an dari lisan seorang wanita yang diincarnya. Wanita tersebut membaca ayat suci Al-Qur’an berbunyi:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)
Kalimat ini menampar Fudail. Dia gemetar dan berjanji tidak akan mengulang. Dan bertobat serius. Akhirnya, dia menjadi orang alim yang menulis banyak kitab.
Begitulah jika datang detik kemuliaan. Tak ada yang bisa menghalangi. Semua dilibas. Hati yang membatu pun menjadi lembut. Hidupnya berubah. Masa lalunya ditinggal. Disongsongnya masa depan yang cerah.
Tentu ujung-ujungnya menjadi pribadi paripurna. Prestasi tersebut luar biasa. Diraih oleh seseorang setelah turun detik kemuliaan.
Suharyo, pemerhati masalah sepele.









