TROBOS.CO | Ibarat petinju, puasa kita mulai memasuki ronde terakhir. Masih ada waktu untuk bertahan. Jangan sampai kehabisan stamina.
Ibarat orang merokok, sekarang tinggal sisanya. Bagi perokok, sisa-sisa itu terasa nikmat. Puasa juga begitu. Hari-hari terakhir merupakan kesempatan emas paling nikmat. Jangan disia-siakan.
Terkait dengan tinju, biasanya di ronde terakhir ada saja yang jatuh, sakit. Yang kalah tidak lagi istirahat di rumah, melainkan dilarikan ke rumah sakit.
Sementara yang menang berpesta pora. Merayakan kemenangan sampai lupa merasakan “bengeb” di wajahnya akibat terkena pukulan lawan.
Detik-detik terakhir bulan Ramadan ada momentum yang luar biasa, yang itu boleh dikatakan sebagai madunya bulan suci ini. Yaitu lailatul qadar.
Lailatul Qadar diburu oleh orang yang berpuasa. Jatuhnya pada “ronde-ronde” terakhir. Tetapi yang staminanya tidak tahan, bisa jatuh sehingga tidak maksimal dalam mengisi Ramadan.
Secara agak jelas, Nabi SAW mengatakan, Lailatul Qadar jatuh pada tanggal ganjil, khususnya di tanggal tua. Kita harus lebih serius, lebih maksimal, dan memperbanyak lagi ibadah.
Tapi kalau tenaga kita “keok”, pasti tidak bisa melanjutkan pertarungan di saat Lailatul Qadar yang diperebutkan hadir. Insya Allah mendapat keutamaannya juga, tetapi tidak maksimal.
Mumpung berada di paruh Ramadan, kita jaga kesehatan lahir batin. Lahirnya tetap prima, sehat, dan kuat. Batinnya dijaga agar tetap semangat sepenuh jiwa.
Hal-Hal yang Hendaknya Dilakukan di Ujung Ramadan
Beberapa hal yang hendaknya kita lakukan saat Ramadan mulai mengarah ke ujung bulan:
Pertama, istiqomah dalam ibadah. Baik yang wajib maupun sunnah. Jangan sampai semangat di awal mengendor di akhir.
Kedua, melaksanakan iktikaf di masjid. Kurangi kesibukan duniawi. Luangkan waktu untuk iktikaf dan menambah amal saleh lainnya. Rasulullah sendiri memperbanyak iktikaf di sepuluh hari terakhir.
Ketiga, tingkatkan dzikrullah. Perbanyak tobat dan hindari hal-hal yang menyebabkan rusaknya puasa Ramadan, seperti berbohong, ghibah, dan sebagainya.
Keempat, perbanyak membaca Al-Qur’an supaya Allah memberikan hidayah. Jaga semangat beramal saleh. Tanpa malu koreksi diri untuk meninggalkan masa lalu yang gelap menuju masa depan yang penuh ceria.
Kita sadari bahwa Lailatul Qadar mampu mengubah hidup dari buruk jadi baik, gelap jadi terang, ragu jadi mantap, pelit jadi dermawan. Nilainya lebih dari 1000 bulan atau 83 tahun. Kurang apa lagi.
Jaga stamina, nikmati Ramadan. Isi ujung bulan suci ini dengan ibadah yang maksimal. Semoga mampu.
Suharyo, pemerhati masalah sepele.








