STII Usia 80 Tahun: Revitalisasi Gerakan Tani untuk Kedaulatan Pangan

TROBOS.CO | Sarikat Tani Islam Indonesia (STII) berdiri pada 26 Oktober 1946. Sejak awal berdirinya, STII telah diperhitungkan sebagai organisasi tani yang berkembang pesat. Tercatat bahwa ketua umum pertama dan kedua pernah ditunjuk menjadi Menteri Pertanian pada masanya.

Dalam sejarahnya, STII merupakan organ Masyumi yang berperan strategis untuk mengimbangi gerakan organ PKI di kalangan petani. Kini, menginjak usianya yang ke-80 tahun di 2026, keberadaan STII terus dipertahankan dan direvitalisasi oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

banner 1142x1600

Pertanyaan mendasar ini muncul di tengah kondisi pertanian nasional yang memprihatinkan. Dari sekitar 33,4 juta petani di Indonesia saat ini, lebih dari 90% di antaranya sudah berusia tua. Lahan milik rata-rata hanya 0,2 hektare per kepala keluarga. Nilai tukar produk pertanian kian merosot.

Meskipun kini telah tertolong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih sering dijumpai kondisi ironis di mana petani memilih tidak memanen dan menjual hasil taninya karena khawatir justru merugi.

STII bergerak dalam dakwah melalui usaha menjaga kedaulatan pangan, meliputi produk pertanian berupa padi, tanaman palawija seperti jagung, dan singkong. Sejalan dengan program swasembada pangan pemerintah, STII merevitalisasi gerak dakwahnya dengan tagline:

“STII Hadir untuk Petani” — satu semangat untuk membantu mensejahterakan petani di Indonesia.

Mendukung program ketahanan pangan pemerintah, STII mentargetkan pembukaan demplot (demonstration plot) seluas 10 ribu hektare tanaman padi di seluruh tanah air dengan benih padi “Trisakti”, hasil produksi STII.

Keunggulan benih padi ini sangat signifikan:

  • Masa panen hanya 75 hari, sementara benih lain membutuhkan waktu 3 sampai 4 bulan.

  • Artinya, dalam setahun, padi Trisakti bisa ditanam dan dipanen 3 sampai 4 kali.

  • Lebih tahan terhadap serangan hama tanaman.

STII juga memproduksi pupuk organik yang dinamai Migo, singkatan dari “Microba Google”. Hasil uji lapang yang dilakukan membuktikan bahwa penggunaan benih Trisakti bersama pupuk Migo menghasilkan panen 2 bahkan 3 kali lipat dari biasanya.

Jika para petani kita memakai benih dan pupuk tersebut, dan ditanam seluas 500 ribu hektare di seluruh Indonesia, dampaknya akan sangat besar terhadap percepatan swasembada pangan nasional.

Di usianya yang ke-80, STII tidak hanya bertahan, tetapi bangkit dengan inovasi dan semangat baru. Dengan tagline “STII Hadir untuk Petani”, organisasi ini ingin memastikan bahwa kesejahteraan petani adalah kunci utama kedaulatan pangan Indonesia.

Yossie Sudarso / Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *