TROBOS.CO | PASURUAN – Jama’ah Tani Muhammadiyah (Jatam) merupakan komunitas baru di bawah binaan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) yang fokus pada pemberdayaan petani sebagai bagian dari gerakan dakwah dan penguatan ekonomi umat.
Kehadiran Jatam menjadi jawaban atas kebutuhan akan wadah yang mampu menghimpun, membina, serta menggerakkan para petani Muhammadiyah agar lebih mandiri dan berdaya saing. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, Jatam hadir bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kolektif yang mengusung semangat kemandirian dan kebermanfaatan.
Di wilayah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, perkembangan Jatam terbilang menggembirakan. Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, kepengurusan Jatam telah terbentuk di 27 kabupaten/kota.
Pada Sabtu, 14 Februari 2026, dilakukan pengukuhan kepengurusan Jatam Jawa Timur di Prigen, Pasuruan oleh Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam mengokohkan struktur organisasi sekaligus mempertegas arah gerakan Jatam di tingkat wilayah.
Dalam sambutan dan arahannya di hadapan para pengurus yang baru dilantik serta peserta Rembug Jatam, Ketua MPM PWM Jawa Timur, Luffi J Kurniawan, S.Sos. , menegaskan bahwa Jatam didirikan untuk memperkuat kemandirian ekonomi melalui jihad ekonomi.
Ia berpesan agar Jatam dijadikan sebagai media dakwah bil hal yang benar-benar menyentuh persoalan riil masyarakat, khususnya para petani. Pengurus Jatam diharapkan mampu menjadi inspirator, lokomotif, sekaligus penggerak di lingkungan masing-masing, sehingga kehadiran Jatam benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat.
Pelantikan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan PDM, MPM, serta pengurus Jatam dari berbagai daerah di Jawa Timur. Suasana semakin hidup ketika narasumber dari Universitas Brawijaya, Dr. Afifuddin Latif Adirejo, memaparkan materi terkait pemuliaan (breeding) bibit padi.
Ia menjelaskan bahwa petani Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya mandiri, terutama dalam penyediaan bibit padi unggul dan pupuk. Ketergantungan terhadap pihak ketiga masih menjadi kendala utama, sementara proses menghasilkan varietas padi yang dapat dipasarkan harus melalui tahapan uji adaptasi, uji mutu, serta uji hama dan penyakit yang tidak sederhana.
Di akhir Rembug Jatam yang dipandu oleh Ketua Jatam Jawa Timur, Annas Sholihin, setelah melalui diskusi panjang sejak pagi hingga sore, dirumuskan tiga agenda besar yang menjadi pekerjaan rumah bersama:
- Fasilitasi Pemasaran – Jatam diharapkan mampu memfasilitasi pemasaran hasil produk anggota agar memiliki akses pasar yang lebih luas.
- Fasilitasi Legalitas Produk – Jatam memfasilitasi legalitas produk anggota sehingga memiliki daya saing dan kepercayaan pasar.
- Kemandirian Organisasi – Jatam diarahkan menjadi organisasi yang mandiri, baik secara kelembagaan maupun ekonomi.
Selain itu, seluruh peserta berharap kegiatan rembug seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin sebagai ruang konsolidasi, evaluasi, dan penguatan gerakan.
Dengan semangat kebersamaan dan dakwah bil hal, Jatam Jawa Timur optimistis menjadi lokomotif kebangkitan petani yang berdaya dan bermartabat.
Nugroho Dwi Atmoko / Trobos.co








