TROBOS.CO | LUMAJANG – Dalam dunia perjalanan berkelompok menggunakan motor, ada sebuah tradisi yang disebut touring. Bagi Ali Surakhman, fenomena ini bukan sekadar hobi, melainkan sebuah ritual yang mengikat solidaritas dan memiliki nilai sejarah panjang.
“Nenek moyang kita adalah pelopor pejalan kaki puluhan bahkan ratusan kilometer. Perjalanan jauh bersama-sama itu selalu berkesan dan mengasyikkan,” tulisnya, mengawali refleksi tentang esensi touring.
Di Lumajang, touring pernah mencatat sejarah gemilang. Saat event touring Vespa digelar, kota ini pernah “banjir vespa” dengan peserta dari berbagai kota di Jawa Timur bahkan nasional. Momen besar itu tidak hanya diisi deru mesin, tetapi juga pementasan seni yang beragam.
Nilai touring sebagai pemersatu juga tercermin dalam organisasi Tapak Suci. Mereka pernah membuat touring spektakuler yang memecahkan rekor. Start dari Jember, kemudian menyambung ke berbagai pos hingga sepuluh titik kumpul.
Tour tersebut dikomandani oleh Dr. H. Sukarno, M.Si., P.B.r., yang menyebut kegiatan ini sebagai “show of force” yang mampu mengeratkan solidaritas sesama anggota Tapak Suci se-Jawa Timur bahkan nasional.
“Itu salah satu nilai touring yang sangat berharga bagi yang pernah mengalaminya,” kenang Ali Surakhman.
Jika touring Vespa dan Tapak Suci lebih menonjolkan kebersamaan dan prestise, maka Bikers Muhammadiyah (Bikersmu) Chapter Lumajang membawa roh berbeda. Touring mereka justru menjadikan jalanan sebagai medan perjuangan sosial.
Ranah aksi mereka beragam. Mulai dari bedah rumah, perbaikan fasilitas umum, hingga turun langsung ke lokasi bencana.
Salah satu medan terberat adalah melintasi jalan berliku di area rawan banjir dan longsor di lereng Gunung Semeru. Di sinilah sosok seperti Nugroho Dwi Atmoko dan kawan-kawan eksis. Mereka langsung turun ke lokasi ketika banjir menerjang, membantu warga dengan segala kemampuan.
“Begitu pula dengan Mas Azis Faturrozi, sang mantan camat. Ia terus melakukan touringnya walau dengan motor ulungnya yang tangguh, setangguh mental bajanya saat di Resimen Yudha Putra,” tulis Ali.
Di balik debu jalanan dan deru mesin, ada misi yang lebih mulia. “BIKERSMU bukan sekadar sebagai ‘raja jalanan’. Tetapi Bikersmu akan terus melaju bersama dakwah,” tegas Ali Surakhman.
Setiap jejak roda mereka di jalanan bukan hanya meninggalkan bekas ban, tetapi aura harum bagi warga di kanan kiri jalan yang dilaluinya. Touring telah bertransformasi dari sekadar kegiatan hobi menjadi medium pelayanan dan penyebaran kebaikan.
Inilah keunikan fenomena touring di Lumajang. Ia menjadi cermin bahwa kebersamaan di atas kendaraan roda dua bisa menjadi kekuatan nyata untuk mengabdi, membantu, dan menebar manfaat di tengah masyarakat.
Ali Surakhman









