Nisfu Sya’ban: Malam Rekonsiliasi dengan Diri Sebelum Ramadan

TROBOS.CO | Kita sedang berada di bulan Sya’ban. Senin malam, 2 Februari 2026, adalah Malam Nisfu Sya’ban. Di tengah kesibukan menyambut Ramadan, Sya’ban sering terabaikan. Ia berada di antara keagungan Rajab dan kemuliaan Ramadan, seolah hanya bulan “persinggahan”. Padahal, Rasulullah SAW menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal amal-amal kita diangkat kepada Allah di dalamnya.

Secara historis, di bulan inilah terjadi peristiwa besar: perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Ini bukan sekadar perubahan arah, melainkan peneguhan identitas dan kemandirian umat Islam. Sya’ban adalah bulan transisi, dan Nisfu Sya’ban (pertengahannya) adalah momen introspeksi yang dalam.

banner 1142x1600

Pada malam Nisfu Sya’ban, banyak umat Islam yang mengisi dengan doa, dzikir, dan shalat sunnah. Terdapat perbedaan pandangan ulama mengenai kekuatan hadis-hadis tentangnya, namun makna utamanya patut direnungkan: ampunan Allah pada malam itu melimpah, kecuali bagi mereka yang masih menyekutukan Allah (syirik) dan yang bermusuhan.

Pesan ini sangat gamblang. Halangan terbesar untuk meraih rahmat bukanlah kurangnya ritual, melainkan penyakit hati: kesyirikan dan permusuhan. Di era polarisasi sosial dan kegaduhan publik saat ini, pesan moral ini terasa sangat relevan dan menusuk.

Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban seharusnya lebih dimaknai sebagai malam rekonsiliasi. Rekonsiliasi dengan Allah melalui taubat, rekonsiliasi dengan sesama dengan saling memaafkan, dan yang tak kalah penting: rekonsiliasi dengan diri sendiri.

Ini adalah malam untuk istirahat sejenak dari kesibukan, merenung, menurunkan ego, dan membersihkan hati dari dendam, iri, dan kebencian. Tanpa proses rekonsiliasi ini, Ramadan berisiko hanya menjadi rutinitas fisik yang kering dari transformasi spiritual.

Rasulullah SAW mencontohkan amalan Sya’ban dengan cara yang membumi: memperbanyak puasa sunnah. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi berpuasa di Sya’ban lebih banyak dibanding bulan lain selain Ramadan. Tidak ada ritual khusus yang rumit di malam Nisfu Sya’ban, yang ada adalah konsistensi ibadah dan kejernihan niat.

Di zaman yang ramai secara digital namun sering hampa spiritual, pesan Nisfu Sya’ban sangat dibutuhkan. Kita mudah tersulut amarah, sulit memaafkan, dan gemar menghakimi di media sosial. Padahal, syarat utama ampunan di malam ini justru adalah menjauhkan permusuhan.

Sya’ban mengajarkan bahwa menuju Ramadan bukan soal menghitung hari, tetapi menyiapkan hati. Jika Ramadan adalah panggung perubahan, maka Sya’ban adalah ruang ganti pakaian jiwa. Dan Nisfu Sya’ban adalah alarm lembut yang bertanya: “Sudah sejauh mana kita berdamai dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan Allah SWT?”

Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *