TROBOS.CO | LUMAJANG – Kehadiran Prof. Dr. H. Khozin, M.Si., Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam Tabligh Akbar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, Ahad (1/2/2026), memberi pencerahan segar tentang makna kebahagiaan dan konsistensi dalam beraktivisme.
“Membahagiakan aktivis itu mudah,” ujar Prof. Khozin mengawali ceramahnya. Menurutnya, kebahagiaan sederhana itu hadir saat mereka bisa berkumpul dan bertemu sesama aktivis, seperti dalam majelis Tabligh Akbar tersebut. “Berkumpul sesama aktivis hatinya merasa bahagia. Apalagi kalau saling membantu, pasti lebih bahagia,” tambahnya.
Ia menyadari bahwa kehadiran jamaah bukanlah hal sepele. “Datang pada Tabligh Akbar seperti ini pasti ada pengorbanan: waktu, tenaga, dan biaya. Semua tidak masalah, yang penting hatinya bahagia,” tegasnya, mengapresiasi komitmen para hadirin.

Memasuki topik spiritual, Prof. Khozin mengingatkan jamaah bahwa bulan Ramadan sudah di depan mata. Aktivis harus mempersiapkan diri menghadapinya. Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, ia menegaskan bahwa tujuan puasa adalah la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa).
“Kata taqwa bisa diartikan memelihara diri. Orang yang suka memelihara diri berarti jiwanya dekat dengan Allah. Dan mereka dimuliakan,” jelasnya, merujuk pada QS. Al-Hujurat: 13. Pribadi yang bertakwa, lanjutnya, tidak mudah tergoda atau menggoda orang lain, dan segera memohon ampun atas kesalahan, terutama yang termasuk fahisyah (dosa besar).
Prof. Khozin kemudian menyentuh aspek manajemen organisasi. Ia mengingatkan bahwa setiap amal usaha yang berkembang pasti melalui fase: masa rintisan (didukung beberapa aktivis), perkembangan, kemajuan, munculnya konflik, dan risiko kehancuran.
“Agar usaha tidak hancur di perjalanan, perlu ada regenerasi,” pesannya. Kader penerus harus dipersiapkan dengan bekal yang matang, berupa karakter moral dan karakter kinerja—semangat dan kegigihan dalam bekerja.
Menurutnya, kader yang berhasil biasanya terbiasa mengerjakan tugas di rumah dan membantu orang tua. Selain hard skill, mereka juga perlu soft skill yang tidak tampak, seperti kemampuan berkomunikasi yang baik. “Anak harus memiliki soft skill keterampilan yang tidak tampak, misalnya bahasanya baik,” ujarnya.
Tabligh Akbar ini pun ditutup dengan pesan yang menguatkan: bahwa kebahagiaan aktivis terletak pada kebersamaan dan saling membantu, ketakwaan adalah tujuan beribadah, dan regenerasi adalah nafas bagi keberlangsungan setiap amal usaha.
Gust/TROBOS.CO









